Langsung ke konten utama

Renungan Kelana Sabda Edisi Jumat 29 Maret 2019



Renungan Sdr. Afrianus Papak, OFM



Bertobatlah Baharuilah
Dirimu Dengan Kasih Allah

Tema ini merupakan tema yang tidak asing lagi bagi
kita, khusus dalam persiapan menyosong Paskah. Kita berada di pekan prapaskah
ke III. Firman Tuhan yang disuguhkan bagi kita, memberikan pengertian yang
jelas bagaimana kita mengasih Allah dan Sesama. Kedua perintah Allah ini
merupakan hukum utama.
Mengasihi sesama tentunya juga akan mengasih Allah.
Karena kita mengasihi sesama kita bukan melihat wajah sesama kita sebagaiman
adanya tetapi lebih dari itu, bahwa di dalam diri sesama kita ada kehadiran
Allah di sana. Tindakan mengasihi sesama bercermin pada diri kita, bahwa kita
telah mengasihi diri kita maka kasih itu pun mau diterima atau dialami sesama
kita. Karena memberikan kedamaian, kenyamanan, sukacita, kegembiraan, dan
kesejahteraan. Situasi macam inilah yang sangat diharapkan semua manusia,
bahkan surga pun menghendaki.
Sungguh menarik jika kita menerima dan merasakan kasih
di dalam hidup kita. Kasih memberikan kehidupan pada diri kita dan memampukan
kita membangun relasi yang terbuka kepada Sesama dan juga kepada Allah.
Dalam mempersiapkan diri menyonsong Paskah, kita perlu
melihat diri kita  dan bertanya, apakah
saya selama ini sudah hidup dalam kasih? Ataukah saya hidup mengalir begitu
saja tanpa memikirkan apa-apa? Jika kita mampu bertanya pada diri kita dan
ternyata kita berdosa. Maka sekarang kita perlu bertobat mengakui dosa-dosa
kita dihadapan Allah melalui para imam. Karena hanya imamlah yang menghadirkan
Kristus untuk memberikan pangampunan. Jangan
kita merasa tidak perlu, takut, dan membiarkan diri begitu saja. Kita
sudah menjerumuskan kita ke dalam jurang maut
Kesempatan yang berahmat Tuhan berikan kepada kita
dalam masa prapaskah, masa persiapan diri (batin), kita kepada Allah. Masa ini
memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berefleksi untuk memahami dan
menemukan diri dihadapan Allah. Karena kita hidup bukan hanya jasmani tetapi
juga Rohani, yaitu kekuatan ilahi dari Allah.
Mari umat beriman yang terkasih, mari kita membahurui
diri kita dengan kasih melalui pertobatan. Karena melalui pertobatan kita
diberisihkan, dimurnikan, dipulihkan dan diangkat menjadi anak-anak Allah yang
membawa kasih bagi dunia. Mari kita
terus melakukan pertobatan dalam hidup kita. (MY)

Penulis. Sdr. Matius Yerikho




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Jembatan Pensil

Resence by: Fransiskan Papua Identitas Film  Judul : Jembatan Pensil Produksi : Grahandhika Visual Produser Eksekutif : La Ode Haerun Ghowe Produser : Tyas Abiyoga Produser Pelaksana : Rahmat Suardi Sutradara : Hasto Broto Penulis Skenario : Exan Zen Pemain : Anak-anak : Didi Mulya : Ondeng Azka Marzuki : Azka Permata Jingga : Yanti Nayla D. Purnama: Nia Angger Bayu : Inal Vickram Priyono : Attar Dewasa : Kevin Julio : Gading Andi Bersama : Pak Guru Alisia Rininta : Bu Aida Meriam Bellina : Ibu Farida Agung Saga : Arman Sinopsis Film Jembatan Pensil ini menceritakan kisah masyarakat di Sulawesi Tenggara tepatnya di Kab. Muna, cerita yang diangkat adalah anak-anak yang belum bisa mendapatkan pendidikan dengan layak. Tentang cita-cita, persahabatan, dan perjuangan. Tokoh-tokoh yang dimunculkan mewakili karakter masyarakat dengan keseharian sebagai nelayan, penenun, pemecah Batu dan juga beternak sapi/kuda.  Setiap pagi anak...

Renungan Kelana Sabda Edisi Sabtu, 2 Maret 2019

Salam Kasih Persaudaraan Sdr. Alfonsius Febryano Ade Putra, OFM https://www.facebook.com/alfonsius.febryan untuk mau langsung ditonton, tinggal Klik aja linik di bawah ini https://www.youtube.com/watch?v=2XxEvb2asJU&t=2s  

Paham Kebebasan dalam Bingkai Kehendak

Sdr. Alfonsius Febryano Ade Putra Salah satu hal yang pernah kubagikan saat sharing Kitab Suci di komunitas Sang Surya ialah tentang pemuda kaya sebagaimana dikisahkan dalam perikop Lukas. Secara garis besar kisahnya, bahwa ada seorang pemuda kaya dan ingin mengikuti Yesus Kristus, tetapi saat Yesus memberikan arahan untuk dia menjual harta bendanya, justru ia pergi   dengan perasaan kecewa oleh karena banyaklah hartanya (Luk. 6: 20-26). Maka aku pun memberi pendapat tentang kebebasan, yakni melihat relasi kebebasan dari Perjanjian Lama terkait dosa Hawa memakan buah terlarang serta pemuda kaya itu sesungguhnya mengamanatkan pada manusia tentang nilai murni akan kebebasan adalah karunia yang Allah berikan kepada umat-Nya. Mengapa? Karena memang bagiku yang tengah berpendapat dalam lingkaran sharing Kitab Suci menganalisisnya tentang semua Kisah dalam Kitab Suci adalah bagian dari dinamika Allah bersama umat-Nya, sehingga baik penolakan maupun sukacita di dalamnya adalah p...