Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret 29, 2019

Harapan Alam dan Kejernihan Nalar Manusia

Sdr. Alfonsius Febryano Ade Putra, OFM Berbincang tentang bencana memang semua merupakan siklus alam yang seharusnya mau tak mau harus kita hadapi atau mungkin diadaptasi sedemikian rupa agar terhindar efek samping dibaliknya.   Bencana bagi kaum intelektual merupakan isyarat bahwa alam punya sudut epistemik untuk dipahami dan dimengerti dalam kerangka logika, bagi kaum spiritual ini adalah keputusan Allah agar manusia berbalik untuk berharap pada pangkuan kasih-Nya, dan bagi kaum sekular semuanya nampak biasa saja, sebab adanya fenomena alam amat begitu lumrah dalam kehidupan manusia di bumi ini, bukan karena manusia berziarah ditengah ruang kosong yang tidak lain tidak bukan adalah cara berada mereka, melainkan hidup sebagai bagian dari semesta, di mana ada terdapat organisme serta seluruh siklus teratur di dalamnya. Adanya ini mengingatkanku akan penjelasan Al-Farabi salah seorang filsuf Persia di abad pertengahan, ia menjelaskan semesta adalah letusan dari San...

Renungan Kelana Sabda Edisi Jumat 29 Maret 2019

Renungan Sdr. Afrianus Papak, OFM https://youtu.be/x3vUwB6bwd0   Bertobatlah Baharuilah Dirimu Dengan Kasih Allah Tema ini merupakan tema yang tidak asing lagi bagi kita, khusus dalam persiapan menyosong Paskah. Kita berada di pekan prapaskah ke III. Firman Tuhan yang disuguhkan bagi kita, memberikan pengertian yang jelas bagaimana kita mengasih Allah dan Sesama. Kedua perintah Allah ini merupakan hukum utama. Mengasihi sesama tentunya juga akan mengasih Allah. Karena kita mengasihi sesama kita bukan melihat wajah sesama kita sebagaiman adanya tetapi lebih dari itu, bahwa di dalam diri sesama kita ada kehadiran Allah di sana. Tindakan mengasihi sesama bercermin pada diri kita, bahwa kita telah mengasihi diri kita maka kasih itu pun mau diterima atau dialami sesama kita. Karena memberikan kedamaian, kenyamanan, sukacita, kegembiraan, dan kesejahteraan. Situasi macam inilah yang sangat diharapkan semua manusia, bahkan surga pun menghendaki. Sungguh men...

Jagung dan Kisah Sang Putri[1]

https://histori.id/kisah-si-bungsu-tujuh-bersaudara/   Sdr. Frederikus Berek, OFM Pada jaman dahulu kala hiduplah sepasang suami-isteri bersama putri tunggal mereka. Saat itu belum dikenal api. Makanan dan minuman tidak perlu dimasak. Mereka mulai berkebun, tapi berulang-ulang mereka kecewa karena tidak ada bibit tanaman yang hasilnya dapat dimakan. Mereka mencoba menanam buah beringin, tetapi saat panen buahnya tak dapat dimakan. Pada suatu hari sang ayah bermimpi. Dia bermimpi tentang seorang kakek tua berambut putih datang dan berbicara dengannya. Kakek itu berkata,“jika kamu ingin keluargamu hidup bahagia, kamu harus mengorbankan anakmu!” “Dengan cara apa aku mengorbankan anakku?”Tanya sang ayah. Kakek itu menjawab,“kamu harus membuka kebun baru seluas mungkin. Setelah itu bawalah anakmu ke tengah kebun, penggal kepalanya, dan cincang tubuhnya. Setelah itu taburkan di kebun.” Sang ayah terbangun dan terdiam. Dia ragu karena dia sangat sayang kepada ...