Langsung ke konten utama

Jagung dan Kisah Sang Putri[1]





Sdr. Frederikus Berek, OFM



Pada jaman dahulu kala hiduplah sepasang suami-isteri bersama putri tunggal mereka. Saat itu belum dikenal api. Makanan dan minuman tidak perlu dimasak. Mereka mulai berkebun, tapi berulang-ulang mereka kecewa karena tidak ada bibit tanaman yang hasilnya dapat dimakan. Mereka mencoba menanam buah beringin, tetapi saat panen buahnya tak dapat dimakan.
Pada suatu hari sang ayah bermimpi. Dia bermimpi tentang seorang kakek tua berambut putih datang dan berbicara dengannya. Kakek itu berkata,“jika kamu ingin keluargamu hidup bahagia, kamu harus mengorbankan anakmu!”
“Dengan cara apa aku mengorbankan anakku?”Tanya sang ayah. Kakek itu menjawab,“kamu harus membuka kebun baru seluas mungkin. Setelah itu bawalah anakmu ke tengah kebun, penggal kepalanya, dan cincang tubuhnya. Setelah itu taburkan di kebun.”
Sang ayah terbangun dan terdiam. Dia ragu karena dia sangat sayang kepada putrinya. Akhirnya dia ceritakan tentang mimpi itu kepada putrinya.
“Ayah, laksanakan perintah kakek dalam mimpi ayah. Aku rela berkorban untuk kebahagiaan ayah dan ibu. Janganlah sedih karena aku akan selalu bersama ayah dan ibu,”kata sang putri.
Keesokan harinya Ia mengajak putrinya ke kebun. Kebun sudah dipersiapkan. Sang ayah menuntun anak gadisnya ke tengah-tengah kebun dan melaksanakan perintah yang dikatakan sang kakek dalam mimpi.
Usai melaksanakan perintah tersebut, sang ayah kembali ke rumah. Setibanya di rumah, sang ibu bertanya dimana putri tunggal mereka. Sang ayah lalu menceritakan yang telah terjadi. Sang ibu menangis tersedu mendengar cerita itu tetapi akhirnya merelakan putrinya. Keduanya lalu memutuskan untuk pergi mengunjungi putri mereka di kebun. Pada saat tiba di pintu pagar kebun, sang istri bertanya kepada suaminya; di manakah anak kita? Sang suami menjawab; Itulah puteri kita. Ia telah bertumbuh dan memenuhi kebun.Tanpa berpikir panjang, sang ibu berlari mendapati jagung yang sudah tumbuh itu dan menciumnya satu demi satu dengan isak tangis.
Tiga puluh tiga hari kemudian (sejak waktu tanam), kedua orang suami istri kembali ke kebun.Ternyata puteri mereka telah bertumbuh besar dan berdaun lebat. Mereka bersukacita karenanya.
Sembilan puluh hari berikutnya, mereka kembali lagi ke kebun.Ternyata jagung itu telah berbunga dan bulirnya telah kuning-menua. Sang istri memeluk bulir-bulir jagung itu, mencium dan membelai rambut puterinya.
Sebelum kembali ke rumah, sang istri berkata kepada suaminya: Biarlah kita memeliharanya secara baik-baik, karena ialah yang akan memberikan kekenyangan sepanjang masa bagi seluruh generasi manusia.
Karena itulah jagung dianggap mempunyai jiwa atau roh, dapat marah atau tertawa, karena ia adalah jelmaan sang putri. Jagung akan marah besar bila ia terus terkurung di lumbung dan tidak diperkenankan oleh tuannya untuk menemui tamu yang datang (alias kikir). Dan bila jagung dan padi menjadi marah maka jiwa/roh jagung itu akan meninggalkan lumbung dan orang itu segera menderita kelaparan.
Tumbuhkan sikap seperti yang ditunjukkan oleh sang putri. . Jika punya makanan, berbagilah kepada orang yang membutuhkan. Dengan begitu kita menghormati makanan yang kita miliki karena makanan kita bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Cerita mitos tentang “jagung dan kisah sang putri” merupakan hal yang bisa diidentikkan dengan pribadi Yesus Kristus. Sang putri ini rela mengorbankan dirinya demi kebahagiaan kedua orang tuanya dengan cara penggal kepala sang putri itu dan tubuhnya dicincang-cincang dan kemudian ditaburkan dalam kebun mereka. Kemudian tumbulah jagung di dalam kebun yang luas itu. Ketika jagung itu tumbuh dengan subur, ibunya pergi memeluk jagung itu sebagai ungkapan syukur kepada anaknya.
Yesus merupakan tokoh yang amat sederhana, namun kesetiaannya untuk membantu banyak orang bisa kita lihat dalam Mat. 15:32-39. Di situ dikatakan bahwa Yesus memberi makan lima ribu orang. Untuk menghilangkan rasa lapar orang banyak itu, Yesus mengadakan mujizat yaitu dari dua ekor ikan dan lima buah roti. Makanan cukup berkelimpahan bahkan dikatakan masih ada sisa dua belas bakul yang dikumpulkan.
Bukan hanya makanan saja yang diberikan Yesus kepada orang banyak itu, bahkan dirinya-Nya pun diserahkan kepada para penjahat untuk dihukum mati. Tujuan dari pengorbanan Yesus adalah untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Sebagai ibu (Bunda Maria) pasti tidak rela memberikan anak-Nya untuk dihukum mati. Maria hanya menangis saat anak-Nya menjalani proses penyaliban. Tapi maria selalu setia mengikuti anak-Nya sampai mati di kayu salib. Kemudian Maria menurunkan jenazah Yesus dan dikuburkan.
Cerita mitos tentang “jagung dan kisah sang putri” mau menunjukkan sikap pengorbanannya kepada orang tuanya kemudian kepada sesama. Dan Yesus juga mengorbankan diri-Nya demi keselamatan banyak orang orang.



[1] Sumber:http://aklahat.wordpress.com/2012/12/17/jagung-di-timor-dan-kisah-sang-puteri/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Jembatan Pensil

Resence by: Fransiskan Papua Identitas Film  Judul : Jembatan Pensil Produksi : Grahandhika Visual Produser Eksekutif : La Ode Haerun Ghowe Produser : Tyas Abiyoga Produser Pelaksana : Rahmat Suardi Sutradara : Hasto Broto Penulis Skenario : Exan Zen Pemain : Anak-anak : Didi Mulya : Ondeng Azka Marzuki : Azka Permata Jingga : Yanti Nayla D. Purnama: Nia Angger Bayu : Inal Vickram Priyono : Attar Dewasa : Kevin Julio : Gading Andi Bersama : Pak Guru Alisia Rininta : Bu Aida Meriam Bellina : Ibu Farida Agung Saga : Arman Sinopsis Film Jembatan Pensil ini menceritakan kisah masyarakat di Sulawesi Tenggara tepatnya di Kab. Muna, cerita yang diangkat adalah anak-anak yang belum bisa mendapatkan pendidikan dengan layak. Tentang cita-cita, persahabatan, dan perjuangan. Tokoh-tokoh yang dimunculkan mewakili karakter masyarakat dengan keseharian sebagai nelayan, penenun, pemecah Batu dan juga beternak sapi/kuda.  Setiap pagi anak...

Teologi Komunikasi

FENOMENA SEX CYBER MELANDA KAUM RELIGUS Oleh: Sdr. Matius Yerikho Diruk PENGANTAR Suatu tantangan dan pergumulan bagi kaum religius di zaman moderen ini, dengan hadirnya alat komunikasi yang canggih dan hanya bermodalkan clik atau sentuhan. Ini menandakan suatu perkembangan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi) yang sangat maju yang melanda diseluruh bidang kehidupan termasuk bidang sipritual. IPTEK membawa suatu perubahan yang dasyat tetapi perubahan itu bisa berdampak positif dan juga negatif. Kaum religius berada suatu era dimana tantangan spiritual sungguh mendapat ujian bagi kehidupan selibat dan kaul. Situasi ini berkaitan dengan penggunaan media masa, khsususnya smart phone . Smart phone sangat berkembang pesat dengan hadirnya Video call yang menghubungan orang yang satu dengan yang lainya. Smart phone mengakases gambar sekaligus suara   melalui jaringan internet sehingga para pengguan smart phone merasa lansung berjumpa dengan orang yang dikontak. ...

Renungan Kelana Sabda Edisi 19 September 2019

Salam Kasih Persaudaraan  Pada hari ini bacaan Injil mengajak kita untuk bermenung tentang cara kita menghargai dan memaknai sebuah pertobatan. Tentang wanita yang menyeka kaki Yesus memberi kita sebuah warna dalam cerita agar senantiasa terus melangkah dalam pertobatan tanpa peduli dengan seluruh pergunjingan orang di sekitar kita. Semoga Tuhan memberimu damai.