Sdr. Frederikus Berek, OFM
Pada
jaman dahulu kala hiduplah sepasang suami-isteri bersama putri tunggal mereka.
Saat itu belum dikenal api. Makanan dan minuman tidak perlu dimasak. Mereka
mulai berkebun, tapi berulang-ulang mereka kecewa karena tidak ada bibit
tanaman yang hasilnya dapat dimakan. Mereka mencoba menanam buah beringin,
tetapi saat panen buahnya tak dapat dimakan.
Pada
suatu hari sang ayah bermimpi. Dia bermimpi tentang seorang kakek tua berambut
putih datang dan berbicara dengannya. Kakek itu berkata,“jika kamu ingin
keluargamu hidup bahagia, kamu harus mengorbankan anakmu!”
“Dengan
cara apa aku mengorbankan anakku?”Tanya sang ayah. Kakek itu menjawab,“kamu
harus membuka kebun baru seluas mungkin. Setelah itu bawalah anakmu ke tengah
kebun, penggal kepalanya, dan cincang tubuhnya. Setelah itu taburkan di kebun.”
Sang
ayah terbangun dan terdiam. Dia ragu karena dia sangat sayang kepada putrinya. Akhirnya
dia ceritakan tentang mimpi itu kepada putrinya.
“Ayah,
laksanakan perintah kakek dalam mimpi ayah. Aku rela berkorban untuk
kebahagiaan ayah dan ibu. Janganlah sedih karena aku akan selalu bersama ayah
dan ibu,”kata sang putri.
Keesokan
harinya Ia mengajak putrinya ke kebun. Kebun sudah dipersiapkan. Sang ayah
menuntun anak gadisnya ke tengah-tengah kebun dan melaksanakan perintah yang
dikatakan sang kakek dalam mimpi.
Usai
melaksanakan perintah tersebut, sang ayah kembali ke rumah. Setibanya di rumah,
sang ibu bertanya dimana putri tunggal mereka. Sang ayah lalu menceritakan yang
telah terjadi. Sang ibu menangis tersedu mendengar cerita itu tetapi akhirnya
merelakan putrinya. Keduanya lalu memutuskan untuk pergi mengunjungi putri
mereka di kebun. Pada saat tiba di pintu pagar kebun, sang istri bertanya
kepada suaminya; di manakah anak kita? Sang suami menjawab; Itulah puteri kita.
Ia telah bertumbuh dan memenuhi kebun.Tanpa berpikir panjang, sang ibu berlari
mendapati jagung yang sudah tumbuh itu dan menciumnya satu demi satu dengan
isak tangis.
Tiga
puluh tiga hari kemudian (sejak waktu tanam), kedua orang suami istri kembali
ke kebun.Ternyata puteri mereka telah bertumbuh besar dan berdaun lebat. Mereka
bersukacita karenanya.
Sembilan
puluh hari berikutnya, mereka kembali lagi ke kebun.Ternyata jagung itu telah
berbunga dan bulirnya telah kuning-menua. Sang istri memeluk bulir-bulir jagung
itu, mencium dan membelai rambut puterinya.
Sebelum
kembali ke rumah, sang istri berkata kepada suaminya: Biarlah kita
memeliharanya secara baik-baik, karena ialah yang akan memberikan kekenyangan
sepanjang masa bagi seluruh generasi manusia.
Karena
itulah jagung dianggap mempunyai jiwa atau roh, dapat marah atau tertawa,
karena ia adalah jelmaan sang putri. Jagung akan marah besar bila ia terus
terkurung di lumbung dan tidak diperkenankan oleh tuannya untuk menemui tamu
yang datang (alias kikir). Dan bila jagung dan padi menjadi marah maka jiwa/roh
jagung itu akan meninggalkan lumbung dan orang itu segera menderita kelaparan.
Tumbuhkan
sikap seperti yang ditunjukkan oleh sang putri. . Jika punya makanan, berbagilah
kepada orang yang membutuhkan. Dengan begitu kita menghormati makanan yang kita
miliki karena makanan kita bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Cerita
mitos tentang “jagung dan kisah sang putri” merupakan hal yang bisa
diidentikkan dengan pribadi Yesus Kristus. Sang putri ini rela mengorbankan
dirinya demi kebahagiaan kedua orang tuanya dengan cara penggal kepala sang
putri itu dan tubuhnya dicincang-cincang dan kemudian ditaburkan dalam kebun
mereka. Kemudian tumbulah jagung di dalam kebun yang luas itu. Ketika jagung
itu tumbuh dengan subur, ibunya pergi memeluk jagung itu sebagai ungkapan
syukur kepada anaknya.
Yesus
merupakan tokoh yang amat sederhana, namun kesetiaannya untuk membantu banyak
orang bisa kita lihat dalam Mat. 15:32-39. Di situ dikatakan bahwa Yesus
memberi makan lima ribu orang. Untuk menghilangkan rasa lapar orang banyak itu,
Yesus mengadakan mujizat yaitu dari dua ekor ikan dan lima buah roti. Makanan
cukup berkelimpahan bahkan dikatakan masih ada sisa dua belas bakul yang
dikumpulkan.
Bukan
hanya makanan saja yang diberikan Yesus kepada orang banyak itu, bahkan
dirinya-Nya pun diserahkan kepada para penjahat untuk dihukum mati. Tujuan dari
pengorbanan Yesus adalah untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa. Sebagai
ibu (Bunda Maria) pasti tidak rela memberikan anak-Nya untuk dihukum mati. Maria
hanya menangis saat anak-Nya menjalani proses penyaliban. Tapi maria selalu
setia mengikuti anak-Nya sampai mati di kayu salib. Kemudian Maria menurunkan
jenazah Yesus dan dikuburkan.
Cerita
mitos tentang “jagung dan kisah sang putri” mau menunjukkan sikap
pengorbanannya kepada orang tuanya kemudian kepada sesama. Dan Yesus juga
mengorbankan diri-Nya demi keselamatan banyak orang orang.

Komentar
Posting Komentar