Langsung ke konten utama

Teologi Komunikasi


FENOMENA SEX CYBER MELANDA KAUM RELIGUS
Oleh: Sdr. Matius Yerikho Diruk




PENGANTAR
Suatu tantangan dan pergumulan bagi kaum religius di zaman moderen ini, dengan hadirnya alat komunikasi yang canggih dan hanya bermodalkan clik atau sentuhan. Ini menandakan suatu perkembangan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi) yang sangat maju yang melanda diseluruh bidang kehidupan termasuk bidang sipritual. IPTEK membawa suatu perubahan yang dasyat tetapi perubahan itu bisa berdampak positif dan juga negatif.
Kaum religius berada suatu era dimana tantangan spiritual sungguh mendapat ujian bagi kehidupan selibat dan kaul. Situasi ini berkaitan dengan penggunaan media masa, khsususnya smart phone. Smart phone sangat berkembang pesat dengan hadirnya Video call yang menghubungan orang yang satu dengan yang lainya. Smart phone mengakases gambar sekaligus suara  melalui jaringan internet sehingga para pengguan smart phone merasa lansung berjumpa dengan orang yang dikontak. Smart phone yang dilengkapi aplikasi yang sangat tren sekarang yaitu WhatsApp dan Mesenger.  Aplikasi WhatsApp dan Mesenger memberikan kemudahan kepada pengguna smart phone untuk melakukan video call kepada siapa saya.
Melalui WhatsApp dan Mesenger menciptakan suatu komunikasi yang akrab dan hangat seperti berjumpa lansung meskipun orang tersebut berada di tempat yang jauh. Kesempatan komunikasi seperti ini sering kali digunakan oleh orang-orang yang bermotifasi jahat untuk memuaskan keinginan sexnya. Kondisi ini bukan hanya dialami masyarakat pada umumnya, tetapi juga para kaum religius. Kenyataan ini menarik perhatian saya, untuk melihat lebih jauh fenomena sex cyber yang terjadi di kaum religus.



PEMBAHASAN

1.      Apa itu sex cyber?

Menurut Peter David Gorlberg menyatakan  bahwa cyber sex  penggunaan internet untuk tujuan seksual (the use of the internet for sexsual purpose) sedangkan David Greenfield mengemukakan bahwa cyber sex adalah menggunakan computer untuk setiap bentuk ekpresi atau kepuasan seksual[1]. Dalam artikel lain ditemukan juga pengertian cyber sex, cyber sex adalah perilaku seksual yang meliputi ciber porn, sensual, chating sex, sex games, film, video, gambar, perkapan, animasi, bunyi atau suara, skesta, ilustrasi, dan foto.[2]
Dalam esiklopedia Wikipedia juga dinyatakan bahwa sex cyber atau computer sex adalah pertemuan seks secara virtual atau maya antara dua orang atau lebih yang terhubung melalui jaringan internet dengan mengirim pesan-pesan yang menggambarkan suatu pengalaman seksual.[3] Oleh karena itu, dapat disimpulkan cyber sex merupakan media atau alat komunikasi yang dibuat menyampaikan gagasan-gagasan tentang sex atau pornografi atau pornoaksi melalui sarana computer atau hp dengan jaringan internet.

2.      Pintu masuk sex cyber  bagi kaum religius.
Hadir akun fece book (FB) yang diluncurkan oleh Mark Zuckerberg pada tahun 2004 dan mengalami pucaknya di tahun 2007 menarik perhatian besar bagi seluruh pengguna media komunikasi. Karena facebook adalah sebuah situs web jejaring sosial populer yang memungkinkan para pengguna dapat menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personil lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan pengguna lain[4].
Melalui akun FB para religus dapat berinteraksi, menampilkan profil, dan menampilkan indentitas diri. Tahap ini boleh dikatakan memperkenalkan identitas diri dan keberadaanya. Sifat relasi yang dibangun masih umum dan bebas berkontak dengan siapa saja.  Ini merupakan  tahap pintu masuk untuk saling mengenal antara satu dengan lainya.
Dalam FB dilengkapi juga fiture yang masih kekinian yaitu aplikasi Mesenger. Aplikasi ini menyediakan banyak fiture untuk berbagi kepada siapa saja. Penggunaan aplikasi ini sangat mudah bagi kaum religius untuk melakukan chating dan video call secara privasi kepada siapa saja. Karena aplikasi ini menyiapkan kapasitas ruang penyimpan data yang besar dan keamanan yang cukup tinggi. Tahap ini seorang kaum religius mulai membangun relasi secara pribadi kepada orang yang beda profesi, satu profesi, dan kaum awan atau masyarakat luas. Relasi pribadi itu membicarakan berbagai hal, entah mengenai pekerjaan, keluarga, dan juga pribadi mereka masing-masing. Tahap ini boleh  dikatakan tahap, konsultasi, sharing, dan curhat dan dan lain-lain. Pada tahap kedua ini, pengenalan diri bukan secara umum dan diketahui masyarakat luas tetapi sudah masuk ke pribadi dan fockus pada individu.
Tidak kala saing dengan aplikasi Mesenger yang sangat tren sekarang ini adalah aplikasi Whatsapp disingkat (wa). Aplikasi ini memiliki fiture yang mudah dipahami oleh para pengguna dan juga memiliki tarif murah. Penggunaan aplikasi ini sangat disukai masyarakat luas, termasuk para religius mereka sudah terbiasa dengan sebutan wa. Dalam  relasi tahap ketiga melalui Whatsapp, seorang religius sudah masuk tahap lebih mendalam karena ketika seorang religius memperkenalkan dirinya sekaligus juga memberikan nomor kontak whatsapp kepada orang yang boleh dipercayanya. Mengapa dikatakan lebih mendalam, karena  nomor wahtsapp biasanya sangat privasi, sehingga cenderung ketika orang dimintai nomor hp mereka memberikan nomor hp biasa.
Dalam aplikasi whatsapp seluruh fiture telah disediakan untuk membantu pengguna boleh berkomunikasi melalui chating (tulisan), video call (melihat orang dan mendengarkan suara) atau pun telpon biasa (hanya mendengarkan suara tampa melihat orangnya). Kesempatan berelasi seperti ini dapat memungkinkan terciptanya suatu relasi yang intim yang kemudian akan mengarah kepada keinginan-keinginan seksual atau keinginan sensual. Khsusnya dalam komunikasi video call memberikan kepuasan tersendiri karena orang yang kita kontak dapat kita lihat dan seakan-akan sepertinya di depan kita.
Cara ini sangat menguntungkan kedua belah pihak karena mereka senang melihat secara lansung. Kesempatan veideo call ini juga memberikan kesempatan kepada orang-orang (relasi beda profesi, relasi satu profesi, atau relasi masyarakat umum atau kaum awam) untuk melakukan kepuasan seksual atau sensual. Alasan pertama, mereka sudah dekat secara pribadi, saling percaya, dan lebih utama karena saling mengasihi atau mencinta. Alasan kedua, keamanan dari aplikasi ini cukup tingi sehingga menjaga kerahasian. Melalui cari inilah  mereka mudah  terbuka dan membuka kepuasan seks melalui bantuan media tersebut. Sex melalui media itu yang di sebut sex cyber.
Kita tau bersama bahwa kaum religus khususnya yang hidup selibat dan kaul. Hidup selibat adalah hidup tidak kawin artinya tidak memiliki suami atau isteri. Sedangkan hidup dalam kaul (biarawan dan biarawati) mereka berjanji menghayati tiga kaul yaitu, hidup dalam kemurnian, ketaatan dan dalam kemiskianan. Hidup selibat dan kaul, sama menjaga hidup kemurnia artinya tidak kawin. Jika mereka jatuh atau pun terjebak dalam relasi intim dengan (orang beda profesi, satu profesi, dan masyarakat luas atau kaum awam), yang mengarah pada sexsual atau sensual, maka mereka melangar janji kesetian.
Di sinilah mereka tidak hidup murni, baik itu terjadi melalui media komunikasi yang boleh bilang dunia firtual atau maya. Sebab dosa terjadi melalau pikiran, perkataan,  perbuatan dan kelalaian.[5]Pengertian dosa itu sendiri adalah melakukan apa yang jahat.[6] Tindakan sex cyber bukan tidakan yang melibatkan kontak fisik tetapi kontak secara pikiran dan perkataan juga kelalaian mereka yang dilakukan, maka mereka dikatakan berdosa, sekaligus juga melakukan perzinaan.[7] Tindakan seperti ini, menciptakan suatu bentuk perzinahan baru. Sudah jelas perzinaan ditolak oleh agama apapun dan gereja khatolik juga sangat menentang hal tersebut.

PENUTUP
Memang tidak dipungkiri kaum religius berada di dunia moderen ini, tentu mereka mengikuti perkembangan dunia Digital yang serba terkoneksi dengan internet. Mau tidak mau, suka tidak suka mereka berada di zaman yang menawarkan sesuatu yang serba waoh. Keadaan ini menantang mereka terutama dalam dimensi spritualitas, seperti yang sudah saya katakana diatas “hidup kaul dan selibat”.
Kenyataan ini membuka cakrawala berpikir seorang religius untuk bertindak dan berpikir secara cerdas dan bijaksana bagaimana ia mampu berelasi orang-orang yang benar, jujur, dan orang yang menajaga panggilan hidup mereka (selibat dan kaul). Mereka memang manusai biasa tidak terlepas  dari kemanusiaan mereka artinya mereka juga suatu saat bisa jatuh atau bisa juga menjadi pelaku terhadap sesama (relasi beda profesi, relasi satu profesi, dan rela masyarakat luas atau kaum awam) untuk melakukan sex cyber.
Oleh karena itu, hal yang perlu dipegang untuk menjadi kekuatan adalah sikap berhati-hati dalam relasi. Relasi kepada orang yang jujur dan boleh menjaga panggilan hidup seorang Religius. Mempunyai iman yang kuat dan tetap mencinta Allah lebih dari segala sesuatu, dan setia pada panggilan. Saya berpikir  tiga hal ini boleh menjadi pengangan untuk membangun relasi yang sehat dan bertanggung jawab sebagai seorang religius di zaman sekarang.
Memang perlu diketahui bersama bahwa bukan aplikasi whatsapp, messenger, dan FB saja yang menjadi pintu masuk sex cyber tetapi aplikasi lain seperti email, instagram, line, twiter dll. Di sini penulis mencoba melihat ketiga hal ini karena pernah menjumpai orang-orang bershering dan mencerita pengalaman mereka juga membaca di artikel-artikel yang disajikan oleh goggle dan buku-buku lainya. Sehingga penulis juga menerima untuk dikritik atau saran dari pembaca, agar tulisan ini lebih baik dan menjadi bermanfaat.




DAFTAR BACAAN

Hadiwikarta, J, (penterj.). 1992. AETATIS NOVAE (Terbitnya Suatu Era Baru). Jakarta: Departemen Komunikasi dan Penerangan KWI.
Paus Benediktus XVI. 2008. Media Komunikasi Sosial: Pada Persimpangan antara Pengacuan Diri dan Pelayanan. Jakarta: Komisi Komunikasi Sosial KWI.
Allen, Kenneth. 2003. Cyber-Sex A Review and Implications of the Situation. home.earthlink.net:  Australian High Tech Crime Centre.
Nawawi Arief, Barda. 2004. Masalah Pertanggungjawaban Pidana Cyber Crime, Seminar “Problematika Hukum Cyber Crime di Indonesia”, FH UNAIR.
















[1]https://www.kompasiana.com diakses tgl 31 Januari 2019
[2]Http:// ongisnade.friendhood.net diakses tgl 31 Januari 2019
[3]En.wikipedia.org/wiki/cybersex di akses 31 januari 2019
[4] https://dikamaulana.wordpress.com diakses 31 Januari 2019
[5] Bdk. Konferensi Waligereja Indonesia. Tata Perayaan Ekaristi (Yogyakarta: Kanisius, 2005), Hal. 5.
[6]Bdk. Konferensi Wali Gereja Regio Nusa Tenggara. Katekismus Gereja Katholik ( Ende : Nusa Indah, 1993), Hal. 458.
[7]Bdk. Kel. 20:13,17

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Film Jembatan Pensil

Resence by: Fransiskan Papua Identitas Film  Judul : Jembatan Pensil Produksi : Grahandhika Visual Produser Eksekutif : La Ode Haerun Ghowe Produser : Tyas Abiyoga Produser Pelaksana : Rahmat Suardi Sutradara : Hasto Broto Penulis Skenario : Exan Zen Pemain : Anak-anak : Didi Mulya : Ondeng Azka Marzuki : Azka Permata Jingga : Yanti Nayla D. Purnama: Nia Angger Bayu : Inal Vickram Priyono : Attar Dewasa : Kevin Julio : Gading Andi Bersama : Pak Guru Alisia Rininta : Bu Aida Meriam Bellina : Ibu Farida Agung Saga : Arman Sinopsis Film Jembatan Pensil ini menceritakan kisah masyarakat di Sulawesi Tenggara tepatnya di Kab. Muna, cerita yang diangkat adalah anak-anak yang belum bisa mendapatkan pendidikan dengan layak. Tentang cita-cita, persahabatan, dan perjuangan. Tokoh-tokoh yang dimunculkan mewakili karakter masyarakat dengan keseharian sebagai nelayan, penenun, pemecah Batu dan juga beternak sapi/kuda.  Setiap pagi anak...

Renungan Kelana Sabda Edisi 19 September 2019

Salam Kasih Persaudaraan  Pada hari ini bacaan Injil mengajak kita untuk bermenung tentang cara kita menghargai dan memaknai sebuah pertobatan. Tentang wanita yang menyeka kaki Yesus memberi kita sebuah warna dalam cerita agar senantiasa terus melangkah dalam pertobatan tanpa peduli dengan seluruh pergunjingan orang di sekitar kita. Semoga Tuhan memberimu damai.