Sdr. Alfonsius
Febryano Ade Putra
Salah satu hal yang pernah
kubagikan saat sharing Kitab Suci di komunitas Sang Surya ialah tentang pemuda
kaya sebagaimana dikisahkan dalam perikop Lukas. Secara garis besar kisahnya,
bahwa ada seorang pemuda kaya dan ingin mengikuti Yesus Kristus, tetapi saat
Yesus memberikan arahan untuk dia menjual harta bendanya, justru ia pergi dengan perasaan kecewa oleh karena banyaklah
hartanya (Luk. 6: 20-26). Maka aku pun memberi pendapat tentang kebebasan,
yakni melihat relasi kebebasan dari Perjanjian Lama terkait dosa Hawa memakan
buah terlarang serta pemuda kaya itu sesungguhnya mengamanatkan pada manusia
tentang nilai murni akan kebebasan adalah karunia yang Allah berikan kepada
umat-Nya. Mengapa? Karena memang bagiku yang tengah berpendapat dalam lingkaran
sharing Kitab Suci menganalisisnya tentang semua Kisah dalam Kitab Suci adalah bagian
dari dinamika Allah bersama umat-Nya, sehingga baik penolakan maupun sukacita
di dalamnya adalah penyelenggaraan ilahi (Providentia
Dei).
Hanya bagaimanakah kebebasan itu
beritikad sebagaimana adanya? Lalu apakah terdapat rasa bersalah jika suatu
saat nanti terdapat situasi yang meminta manusia untuk mengikuti Allah tetapi
manusia justru menolak? Datang darimanakah kebebasan itu? Untuk itulah aku
ingin membagikan hasil pembelajaranku selama pertengahan semester ini, terlebih
khusus pembahasan matakuliah moral dasar. Memang mungkin tidak ada dalam diktat
karena aku memakai sumber literer lainnya, sebab aku hanya ingin mau melengkapi
diktatku dengan pelbagai pencarian, sebab mentok dengan membaca diktat kurang
memuaskan bagiku. Dan ini juga sebagai pertanggungjawaban atas sikapku selama
pelajaran moral dasar sewaktu membahas kebajikan, aku sempat tertidur di kelas,
oleh karena aku sedang mengusung tulisan ini.
Harkat Filosofis akan Kebebasan
Pernah dalam suatu pertemuan mata
kuliah moral dasar salah satu teman angkatan mengangkat paham Immanuel Kant
sebagai modul untuk mendefiniskan tentang kebebasan dan mengkaji ulang dengan
ajaran moral Gereja melalui pertanyaan yang disampaikan kepada pengampu mata
kuliah tersebut. Lalu sejenak aku mulai mengingat tentang pemahaman Imperatif
kategoris milik Kant beserta catatan intelektualnya tentang etika, bahwa Kant
merumuskan kebebasan sebagai suatu pengalaman yang dialami juga dikenali dari
kesadaran akan kewajiban mutlak untuk bertindak sesuai dengan norma moral.
Hanya amat disayangkan saat itu si penanya (teman angkatanku) tak memberi bukti
kuat mengapa Kant menyimpulkan demikian? Seadanya aku dapatkan dalam majalah Melintas pembahasan dari Romo Adrianus
Sunarko OFM bahwa kebebasan yang diangkat oleh Kant disumbangkan dalam rupa
contoh, yakni tentang seseorang yang berhadapan dengan dilema moral. Seorang
bangsawan memaksa seseorang (si A), dengan ancaman hukuman mati, untuk memberi
kesaksian palsu tentang seseorang lain (si B) yang sama sekali tidak bersalah.
Berdasarkan kesaksian palsu itu orang yang tidak bersalah tadi pasti akan dihukum
Terhadap pertanyaan, apakah si A mampu menolak perintah sang bangsawan tadi,
Kant memberi jawaban berikut: “Apakah ia
akan melakukannya (menolak untuk bersaksi dusta) atau tidak, mungkin ia sendiri
tidak dapat memastikannya; akan tetapi bahwa hal itu mungkin dilakukan, kiranya
jelas baginya. Jadi ia menilai, bahwa ia dapat (mungkin) melakukan sesuatu,
justru karena ia sadar, bahwa ia harus melakukannya dan karena itu mengenali
kebebasan dalam dirinya; kebebasan yang tanpa adanya hukum moral tetap tak dikenalinya.”
Hingga ingin dikemukakan akan adanya penentut terhadap kebebasan, baru apat
bergerak dan dialami bila Orang
mengetahui kebebasan dari fakta yang meminta keharusan untuk bertindak sesuai dengan norma moral. Dan hal
ini terkmaktub dalam salah satu imperative kategoris Kant semasa pelajaran
sejarah pemikiran Modern, yakni Bertindaklah
sedemikian rupa sehingga Anda selalu memperlakukan umat manusia entah di dalam
pribadi Anda maupun di dalam pribadi setiap orang lain sekaligus sebagai
tujuan, bukan sebagai sarana belaka.
Mungkinkah Kebebasan dapat dikenali
asal-usulnya? Tentu untukku yang belajar mengalami Allah dalam spiritualitas
fransiskan pastinya akan merujuk pada ajaran Kitab Suci bahwa Kebebasan, murni
berasal dari dinamika Allah bersama umat-Nya yang semuanya adalah demi cinta
Allah kepada manusia dalam koridor keselamatan umat. Dan untuk itulah saya
yakin bahwa kebebasan manusia seluruhnya
diberikan Allah kepada manusia. Hingga secara langsung dapat kualami, pertama kebebasan manusia berlangsung
dengan alami tepat disaat manusia menentukan untuk mengambil sikap terhadap
pilihannya sendiri, baik itu dalam mengambil jarak, menegasikan salah satu
pilihan, ataupun mengafirmasi beberapa hal, dari segala bentuk pegalaman.
Sehingga dari semua sikap tersebut mengingatkan pembahasan salah seorang filsuf
Denmark yakni bapak filsafat eksistensialis Soren Kierkegaard. Bereksistensi bukan berarti hidup dalam
pola-pola abstrak dan mekanis, tetapi terus menerus mengadakan pilihan-pilihan
baru secara personal dan subjektif. Dengan kata lain, eksistensi manusia
merupakan suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti
mengada dalam suatu perbuatan yang harus dilakukan oleh setiap orang bagi
dirinya sendiri. Demikianlah ungkapannya sebagaimana kukutip dari
Kompasiana entah edisi ke berapa? Jelasnya bahwa manusia hendaknya mengada
sesuai dengan pembawaan dirinya yang asali dan jangan pernah menyeret realitas
untuk untuk mereduksi seluruh harkat manusia yang konkret. Kedua Oleh karena itu wajar saja bila dengan mengambil sikap
terhadap suatu pilihan, maka penentuan terhadap diri sendiri pun akan terwujud
dengan kata lain manusia memberi isi pada kehendaknya, misalnya, tidak berarti
bahwa seseorang mengambil sikap seenaknya tanpa arah, melainkan bahwa para
warga menentukan sendiri hukum apa yang mengatur hidup bersama. Kebebasan dalam
politik tidak berarti tidak adanya hukum yang mengatur, melainkan hukum
ditentukan sendiri oleh warga. Tentu saja penentuan diri tersebut tidak terjadi
sekali untuk selamanya. Terhadap tindakan penentuan diri pribadi maupun politis
yang sudah diambil pun seseorang tetap dapat dengan bebas mengambil sikap
menyetujuinya kembali atau bila perlu memilih sebuah sikap baru. Jadi bagaimana, Kalo Prabowo masuk koalisi
Jokowi-Ma’ruf Amin dan oposisi seolah-olah tidak memiliki taring serta para
pendukung partai dari kedua kubu (Prabowo dan Jokowi) justru malah saling
bekerja serta berebut kursi, lantas siapa yang akan mengkritik kinerja? Nah….
Pilihan baru harus diciptakan yakni oleh karena membawa amanat rakyat, maka
gunakan akal budi ini untuk menjernihkan langkah kekuasaan agar transparan.
Kebebasan dan rahmat
Sejenak aku mengingat tentang kisah
pertobatan St. Agustinus bahwa ia sempat memeluk ajaran manikheisme yang menekankan
bahwa keselamatan dipahami sebagai
tindakan pembebasan jiwa dari genggaman tubuh dengan mempraktikkan askese.
Hanya saja pertobatan untuk menuntaskan kerinduannya pada Allah justru tidak
begitu terjawab, bahkan dikatakan oleh pemaparan Rm. Adrianus Sunarko melalui
kuliah umum di Youtube dari komunitas Salihara, menyatakan bahwa keinginan
Agustinus untuk melepas kedagingan seperti masih terasa ragu olehnya. Pun baru
ketika bertemu uskup milan, yakni Ambrosius ia diperkenalkan dengan ajaran neo-platonisme
dengan mengemukakan ajaran bahwa keberadaan tertinggi adalah Yang Maha Esa
atau Yang Maha Baik, sumber segala sesuatu; dalam kebajikan dan meditasi, jiwa
berkuasa mengangkat dirinya sendiri untuk mencapai kemanunggalan dengan Yang
Maha Esa. Lalu bagaimana dengan kebebasan? Tentu ini menjadi pergumulan
yakni melihat pembebasan dalam pandangan teologi lebih merujuk pada pembebasan
dosa umat manusia oleh Yesus Kristus. Pernah suatu kali aku bertanya dalam hati
mungkinkah demikian? Sebab bila motifnya demi membebaskan manusia berarti Allah
dan seluruh penyelenggaran-Nya terhadap manusia pastinya terikat dan tidak
bebas. Oleh prinsip akal budi menurutku memang masuk akal, hanya terkesan
begitu terikat dan menjadikan Allah tidak begitu bebas, padahal sedari awal
membaca sejarah keselamatan bangsa Israel hingga penebusan Kristus seperti
merujuk pada Allah yang punya rencana tersendiri bagi manusia.
Oleh karena itu aku berpaling dari
St. Thomas Aquinas dan merujuk pada salah seorang rahib Fransiskan, yakni
Yohanes Duns Scotus. Jika St. Thomas Aquinas lebih mendekatkan diri apda paham
Aristoteles bahwa, kehendak manusia pada dasarnya digerakkan oleh objek di
luar dirinya yang menjadi tujuan. Kalau objek dari pengetahuan manusia selalu
adalah kebenaran, maka objek tujuan dari kehendak manusia akhirnya adalah
kebaikan itu sendiri. Sebagaimana sudah diajarkan oleh Aristoteles, tujuan
(dalam hal ini: kebaikan) itulah yang menggerakkan orang yang berkehendak,
sebagaimana halnya orang atau sesuatu yang dikasihi menggerakkan orang yang
mengasihi (Omne quod movetur ab alio movetur.) Namun
untuk Scotus berdasarkan jejak tulisan dari Rm. Adrianus Sunarko melalui media
Komunitas Salihara berbasis digital, ia menyatakan bahwa Tetapi intellectus tidak memainkan peran sebagai causa totalis atas
kehendak. Intellectus lebih berperan dalam menunjukkan berbagai kemungkinan
(rasional) tindakan yang dapat dipilih untuk dilaksanakan. Kehendaklah sendiri
dengan kemampuan dan dinamika asali yang melekat padanya yang kemudian bergerak
– dengan bebas – untuk mewujudkan tindakan. “Kebebasan di sini tidak lagi
dipikirkan hanya sebagai kebebasan untuk berbuat baik, melainkan sebagai kemampuan
untuk menentukan diri sendiri dan sekaligus untuk dapat bersikap terhadap
segala yang mungkin, juga terhadap perbedaan antara yang baik dan yang jahat.”
Oleh karena itu akal budi memang penting untuk menyajikan beberapa kemungkinan
tetapi kehendaklah yang berhak menentukan, sehingga dari penebusan Kristus atas
dosa manusia, aku lebih memihak pada kasih Allah, di mana oleh kebebasannya
dengan mongoptimalkan di dalam kasih, justru membuat manusia terbebas dari
dosa. Untuk itu memandang kembali pertobatan Agustinus pada paragraf awal demi
menuntaskan kerinduannya pada Allah, disitu aku melihat bahwa kasih memiliki
dinamikanya. Dan Agustinus telah memilih bagian yang tepat dan tidak akan
diambil dari padanya.
Download disini:
https://docs.google.com/document/d/1I2IwMLc2FU_0n1udWIaDntI3pUgsA6uTy00wAo2_1zI/edit?usp=sharing

Komentar
Posting Komentar