
Injil sinoptik mungkin dapat menjadi rujukan tentang pemahaman akan kebebasan, terlebih khusus aspeknya pada kehendak (Free will). Hal tersebut dapat dilihat dari kisah orang muda yang kaya, di mana seorang pemuda itu bertanya pada Yesus, dan berkata ‘Guru perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk beroleh hidup kekal?’ jawab Yesus ‘jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayah ibumu dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri’ lalu pemuda itu menjawab bahwa semuanya telah dilakukan. Pun Yesus menambahkan ‘jikalau engkau hendak sempurna, pergilah dan juallah harta milukmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin.’ Maka pergilah si pemuda itu dengan kesedihan, sebab banyaklah hartanya. 1 Maksud dari aspek ini mengingatkanku pada pandangan Duns Scotus tentang kehendak bebas sebagai rahmat kepada manusia untuk memilih kebaikan dalam dirinya “Kebebasan di sini tidak lagi dipikirkan hanya sebagai kebebasan untuk berbuat baik, melainkan sebagai kemampuan untuk menentukan diri sendiri dan sekaligus untuk dapat bersikap terhadap segala yang mungkin, juga terhadap perbedaan antara yang baik dan yang jahat.”2 Hanya saja penekanan bukan pada aspek dari Duns Scotus sendiri, melainkan pada pemahaman filsafat modern, terutama pemikiran Sartre (seperti kalimat bercetak tebal diatas) bahwa sesungguhnya kecemasan adalah pangkal akan kebebasan3. Sehingga dalam garis besar dapat disimpulkan secara ringkas, bahwa kebebasan dimengerti di sini sebagai kemampuan manusia yang asali dan tak terpisahkan darinya untuk mengambil sikap sendiri; kemampuan asali untuk menentukan diri serta sikap (artinya: mengambil jarak, berefleksi dan kemudian mengafirmasi atau menegasi) terhadap segala sesuatu, terhadap lingkungan sekitar, terhadap diri sendiri, terhadap segala peraturan dan sistem (bahkan yang memaksa), terhadap juga persyaratan-persyaratan yang memungkinkan perwujudan kebebasan itu sendiri, bahkan juga terhadap Tuhan. Inilah watak pemikiran Sartre, di mana memilih ateis sebagai sikap hidup.
Namun bagaimanakah pendapat Sartre hingga mengemukakan pendapat demikian di dalam gaya berpikirnya? Ataukah ia hanya sekadar mengada-ada? Mungkinkah inilah pendekatannya untuk dapat masuk sebagai salah satu pemikir terkemuka pada paham eksistensialisme? Maka diatas lembar-lembar inilah pemikiran Sartre akan dijabarkan secara terperinci tentang bagaimanakah kecemasan mengakibatkan manusia dapat secara bertanggung jawab untuk memilih sebuah keputusan atas kebebasannya sendiri.
Fakta dan pengaruh gaya pemikiran Sartre
Mengkaji seluruh hidup Sartre dalam biografi singkat memang amat begitu panjang, akan banyak menuai kekaguman. Namun apakah fakta-fakta tak dapat memberi kekaguman, justru kekaguman yang memberikan pengertian akan mengapa hal tersebut dapat terjadi? Pernahkah kita tahu akan kondisi fisik Sartre bahwa sebenarnya dia adalah pria bermata juling, dalam buku orang lain adalah neraka terbitan pustaka pelajar, ia menyatakan dirinya: "Sejak beberapa waktu sudah ada noda pada mataku yang akan menjadikanku bermata jerang .... aku telah difoto seratus kali yang diperindah mama dengan pensil berwarna" 4 Hal ini kebanyakan membuatnya menjadi minder. Bahkan pemikirannya terahir dari ini, seperti misalnya ia menganggap bahwa orang lain adalah sebab keterjatuhan, berhubungan dengan pengalaman masa kecil Sartre mengalami pengobjekan dan keterjatuhan akibat pandangan orang lain, Sartre menjelaskan: "Ada kebenaran lain. Di teras teras Taman luxembourg anak anak bermain, aku mendekati mereka; mereka menyisih tanpa melihatku; aku memandangmereka dengan pandangan duka; betapa kuat dan gesitnya mereka! betapa gantengnya mereka!....keunggulan dan kecerdasanku lenyap seketika... kesempatan itu tidak diberikan; aku menemukan hakim-hakimku yang sesungguhnya, yaitu manusia setara, dan ketakacuhan mereka telah memvonisku... tidak seorangpun mengajaku bermain."5 Orang lain memang merupakan neraka baginya, hal itu oleh karena dengan mata orang lain tercipta suatu pandangan hingga mengakibatkan orang tidak begitu bebas. Dengan begitu bagi Pandangan menurut Sartre, sebagai sarana untuk membuat orang yang memandang kita seakan-akan kita menjadi benda dan orang yang memandang kita menjadi subjek aktif lalu membendakan kita. Tak heran pula bahwa dengan memandang orang lain adalah neraka, menimbulkan penilaian orang terhadapnya, yakni sebagai seorang borjuis, di mana tidak pernah memandang orang lain dan cenderung individualis. Namun jawaban Sartre cukuplah bijak, dengan menyatakan Dengan demikian, efek eksistensialisme yang pertama adalah menempatkan posisinya sebagai dirinya sendiri, dan meletakan seluruh tanggung jawab hidupnya sepnuhnya di pundak manusia itu sendiri.6 Dari penjelasan Sartre diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia memang memiiki kebebasan dalam menuntukan pilihan, bahkan menurut Sartre manusia dikutuk untuk bebas, akan tetapi kebebasan yang dipilih juga harus mempertimbangkan kepentingan secara luas. Kebebasan menurut Sartre juga harus disertai dengan tindakan secara terus menerus, karena sejatinya adalah mahluk yang menindak dan untuk menindak terkait dengan kesadaran akan dunia. Manakah kesadaran menurutnya?
• Etre En Soi: kesadaran yang ada begitu saja: secara garis besar maksudnya adalah dalam kesadaran ini tidak ada subjek yang menindak / bisa dikatakan yang memiliki kesadara ini adalah benda mati. contoh : kursi, meja dan lain lain. ciri ciri kesadaran ini yaitu tidak memiliki celah untuk di kritik mereka ada sesuai dengan fungsinya. kekuranganya dari adalah tidak bisa berproses. contoh Kursi tidak bisa dikritik karena tidak memiliki celah akan tetapi kursi dari waktu ke waktu akan memiliki bentuk dan fungsi yang sama
• Etre pour soi: kesadaran/ ada bagi dirinya: kesadaran ini hanya dimiliki oleh manusia. dalam kesadaran ini subjek bertindak aktif. ciri kesadaran ini adalah selalu berproses dan memiliki celah untuk dikritik.
Cemas yang membebaskan
Di awal tadi sempat dibahas akan makna kecemasan itu secara singkat, oleh sebab cemas maka itulah pangkal kebebasan. Sebagaimana menjadi kebiasaan di kalangan para eksistensialis semenjak Kierkegaard, Sartre pun membedakan antara ketakutan (fear) dari kecemasan (anxiety). Ketakutan memiliki salah satu objek, yaitu benda-benda dalam dunia. Sementara kecemasan menyangkut diri saya sendiri dengan menyatakan bahwa keberadaan saya seluruhnya tergantung pada diri saya. Sebuah rujukan yang diberikan Sartre sendiri yaitu sebagai berikut. Saya menghadapi tepi jurang yang tinggi dan terjal. Saya menoleh ke bawah. Saya merasa cemas. Sudah sanggup saya bayangkan apa yang akan terjadi bila saya menerjunkan diri ke dalam jurang. Hal tersebut sama sekali tergantung pada diri saya apa yang akan saya perbuat, terjun ke bawah atau dengan hati-hati melangkah mundur ke daerah yang aman. Tidak ada yang memaksa saya untuk menyelamatkan hidup saya sendiri dan tidak ada yang menghalangi saya untuk terjun ke dalam jurang. Bahwa hanya saya sendirilah yang bertanggungjawab atas perbuatan saya, hal tersebut menyebabkan kecemasan. Kecemasan yaitu kesadaran bahwa masa depan saya seluruhnya bergantung pada saya. Sartre mengakui bahwa kecemasan ini jarang terjadi. Ini disebabkan lantaran biasanya insan terhanyut oleh urusan-urusan sehari-hari. Kemungkinan-kemungkinannya tidak menjadi objek refleksi, tetapi ia merealisasikannya secara prarefleksif. Tetapi sedari ia insaf bahwa tingkah lakunya seluruhnya bergantung pada dirinya, bahwa ia sendirilah satu-satunya sumber segala nilai dan makna, maka kecemasan timbul dalam hidupnya. Walaupun demikian, insan bias menutup matanya bagi kebebasan, dan melarikan diri dari kecemasan dan sering kali terjadi begitu. Sangat bertentangan dengan kebebasan yaitu apa yang oleh Sartre disebut esprit de serieux (spirit of seriousness, suasana pikiran serius)7. Sudah kita lihat bahwa kecemasan menyatakan kebebasan saya yang tidak fundamen. Segala nilai dan makna bergantung pada kebebasan saya. Tetapi esprit de serieux memandang nilai dan makna sebagai data-data objektif, tidak tergantung dari subjek yang menilai. Contoh sebut saja orang beragama, terkait perintah Tuhan Dalam konteks ilmu pengetahuan, “suasana pikiran serius” tersebut tampak pada mereka yang menganut salah satu bentuk determinisme psikologis. Kalau begitu, insan dijadikan suatu objek yang ditentukan oleh faktor objektif lainnya. Manusia diberi suatu kodrat yang dianggap merupakan asal mula semua perbuatan, impian dan penghayatannya. Kiranya sudah terang bahwa esprit de serieux merupakan salah satu perilaku malafide (penyangkalan terhadap apa yang dihayatinya sebagai sebuah keyakinan). Maka dengan cemas lantaran keterikatan membuat manusia memilih bagian hidupnya sesuai apa kemauannya, sebab kodrat manusia sesunggunya adalah memahami dan melaksanakan makna bebas sebagaimana di dalam ruang dan waktu ini. Apakah Sartre menyatakan bahwa kebebasan boleh juga dapat menidakkan sesuatu tertentu? Tentu saja ia dengan catatan bahwa ia mampu bertanggung jawab akan pernyataan tidak mengikuti sesuatu pun. Demikian kalo dikaji dari perspektif injil Matius itu sungguh memang merupakan kebebasan dari pihak si pemuda untuk pergi dalam kesedihan, sebab oleh karena kesedihannya dalam memilih hal surgawi bagi dirinya. Walaupun memang dalam perspektif Sartre Allah adalah pengkal seluruh kodrat ciptaannya8 dan untuk eksistesialimenya pun ia menganggap hal ini sungguh memenjarakan prnsip eksistensialime-humanisnya, kebebasanlah yang mencipta. Untuk itu penolakkan akan pengalaman pemuda dari nain seperti awal tulisan ini merupakan contoh kebebasan itu sendiri, ia pergi dalam kesedihan dan melangkah untuk memilih kehidupannya dengan berefleksi tentang harta, dan disitulah langkah awal bahwa kesedihan membuatnya menjadi bebas serta memahami bahwa sesungguhnya kehendak ultim manusia adalah tercipta menurut kebebasannya.
Daftar Pustaka
1. Matius 19:16-23
2.http://salihara.org/sites/default/files/%5B2016-05-28kf%5D%202016-05-28-Kelas%20Filsafat-Filsafat%20abad%20pertengahan Duns%20Scotus%20Antara%20Teologi%2C%20Sekularisme%20dan%20Pencerahan-Adrianus%20Sunarko.pdf diambil 24 April 2019
3.https://rodaduniailmu.blogspot.com/2019/02/jean-paul-sartre-kebebasan.html diambil 26 April 2019
4.Jean Paul Sartre dalam Wahyu Budi Nugroho, Orang Lain Adalah Neraka, Pustaka Pelajar,Yogyakarta, 2013,h. 37
5. ibid. 4
6. Jean Paul Sartre, op cit, hlm. 46
7. Sartre: The necessary of Freedom, University Cambridge Press hlm. 17
8. Dr. Van Der Weij dalam K. Bertens: Filsuf-filsuf besar tentang Manusia; Seri Filsafat Atma Jaya cetakan, Kanisius, Yogjakarta,2006, hlm.147
Fakta dan pengaruh gaya pemikiran Sartre
Mengkaji seluruh hidup Sartre dalam biografi singkat memang amat begitu panjang, akan banyak menuai kekaguman. Namun apakah fakta-fakta tak dapat memberi kekaguman, justru kekaguman yang memberikan pengertian akan mengapa hal tersebut dapat terjadi? Pernahkah kita tahu akan kondisi fisik Sartre bahwa sebenarnya dia adalah pria bermata juling, dalam buku orang lain adalah neraka terbitan pustaka pelajar, ia menyatakan dirinya: "Sejak beberapa waktu sudah ada noda pada mataku yang akan menjadikanku bermata jerang .... aku telah difoto seratus kali yang diperindah mama dengan pensil berwarna" 4 Hal ini kebanyakan membuatnya menjadi minder. Bahkan pemikirannya terahir dari ini, seperti misalnya ia menganggap bahwa orang lain adalah sebab keterjatuhan, berhubungan dengan pengalaman masa kecil Sartre mengalami pengobjekan dan keterjatuhan akibat pandangan orang lain, Sartre menjelaskan: "Ada kebenaran lain. Di teras teras Taman luxembourg anak anak bermain, aku mendekati mereka; mereka menyisih tanpa melihatku; aku memandangmereka dengan pandangan duka; betapa kuat dan gesitnya mereka! betapa gantengnya mereka!....keunggulan dan kecerdasanku lenyap seketika... kesempatan itu tidak diberikan; aku menemukan hakim-hakimku yang sesungguhnya, yaitu manusia setara, dan ketakacuhan mereka telah memvonisku... tidak seorangpun mengajaku bermain."5 Orang lain memang merupakan neraka baginya, hal itu oleh karena dengan mata orang lain tercipta suatu pandangan hingga mengakibatkan orang tidak begitu bebas. Dengan begitu bagi Pandangan menurut Sartre, sebagai sarana untuk membuat orang yang memandang kita seakan-akan kita menjadi benda dan orang yang memandang kita menjadi subjek aktif lalu membendakan kita. Tak heran pula bahwa dengan memandang orang lain adalah neraka, menimbulkan penilaian orang terhadapnya, yakni sebagai seorang borjuis, di mana tidak pernah memandang orang lain dan cenderung individualis. Namun jawaban Sartre cukuplah bijak, dengan menyatakan Dengan demikian, efek eksistensialisme yang pertama adalah menempatkan posisinya sebagai dirinya sendiri, dan meletakan seluruh tanggung jawab hidupnya sepnuhnya di pundak manusia itu sendiri.6 Dari penjelasan Sartre diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia memang memiiki kebebasan dalam menuntukan pilihan, bahkan menurut Sartre manusia dikutuk untuk bebas, akan tetapi kebebasan yang dipilih juga harus mempertimbangkan kepentingan secara luas. Kebebasan menurut Sartre juga harus disertai dengan tindakan secara terus menerus, karena sejatinya adalah mahluk yang menindak dan untuk menindak terkait dengan kesadaran akan dunia. Manakah kesadaran menurutnya?
• Etre En Soi: kesadaran yang ada begitu saja: secara garis besar maksudnya adalah dalam kesadaran ini tidak ada subjek yang menindak / bisa dikatakan yang memiliki kesadara ini adalah benda mati. contoh : kursi, meja dan lain lain. ciri ciri kesadaran ini yaitu tidak memiliki celah untuk di kritik mereka ada sesuai dengan fungsinya. kekuranganya dari adalah tidak bisa berproses. contoh Kursi tidak bisa dikritik karena tidak memiliki celah akan tetapi kursi dari waktu ke waktu akan memiliki bentuk dan fungsi yang sama
• Etre pour soi: kesadaran/ ada bagi dirinya: kesadaran ini hanya dimiliki oleh manusia. dalam kesadaran ini subjek bertindak aktif. ciri kesadaran ini adalah selalu berproses dan memiliki celah untuk dikritik.
Cemas yang membebaskan
Di awal tadi sempat dibahas akan makna kecemasan itu secara singkat, oleh sebab cemas maka itulah pangkal kebebasan. Sebagaimana menjadi kebiasaan di kalangan para eksistensialis semenjak Kierkegaard, Sartre pun membedakan antara ketakutan (fear) dari kecemasan (anxiety). Ketakutan memiliki salah satu objek, yaitu benda-benda dalam dunia. Sementara kecemasan menyangkut diri saya sendiri dengan menyatakan bahwa keberadaan saya seluruhnya tergantung pada diri saya. Sebuah rujukan yang diberikan Sartre sendiri yaitu sebagai berikut. Saya menghadapi tepi jurang yang tinggi dan terjal. Saya menoleh ke bawah. Saya merasa cemas. Sudah sanggup saya bayangkan apa yang akan terjadi bila saya menerjunkan diri ke dalam jurang. Hal tersebut sama sekali tergantung pada diri saya apa yang akan saya perbuat, terjun ke bawah atau dengan hati-hati melangkah mundur ke daerah yang aman. Tidak ada yang memaksa saya untuk menyelamatkan hidup saya sendiri dan tidak ada yang menghalangi saya untuk terjun ke dalam jurang. Bahwa hanya saya sendirilah yang bertanggungjawab atas perbuatan saya, hal tersebut menyebabkan kecemasan. Kecemasan yaitu kesadaran bahwa masa depan saya seluruhnya bergantung pada saya. Sartre mengakui bahwa kecemasan ini jarang terjadi. Ini disebabkan lantaran biasanya insan terhanyut oleh urusan-urusan sehari-hari. Kemungkinan-kemungkinannya tidak menjadi objek refleksi, tetapi ia merealisasikannya secara prarefleksif. Tetapi sedari ia insaf bahwa tingkah lakunya seluruhnya bergantung pada dirinya, bahwa ia sendirilah satu-satunya sumber segala nilai dan makna, maka kecemasan timbul dalam hidupnya. Walaupun demikian, insan bias menutup matanya bagi kebebasan, dan melarikan diri dari kecemasan dan sering kali terjadi begitu. Sangat bertentangan dengan kebebasan yaitu apa yang oleh Sartre disebut esprit de serieux (spirit of seriousness, suasana pikiran serius)7. Sudah kita lihat bahwa kecemasan menyatakan kebebasan saya yang tidak fundamen. Segala nilai dan makna bergantung pada kebebasan saya. Tetapi esprit de serieux memandang nilai dan makna sebagai data-data objektif, tidak tergantung dari subjek yang menilai. Contoh sebut saja orang beragama, terkait perintah Tuhan Dalam konteks ilmu pengetahuan, “suasana pikiran serius” tersebut tampak pada mereka yang menganut salah satu bentuk determinisme psikologis. Kalau begitu, insan dijadikan suatu objek yang ditentukan oleh faktor objektif lainnya. Manusia diberi suatu kodrat yang dianggap merupakan asal mula semua perbuatan, impian dan penghayatannya. Kiranya sudah terang bahwa esprit de serieux merupakan salah satu perilaku malafide (penyangkalan terhadap apa yang dihayatinya sebagai sebuah keyakinan). Maka dengan cemas lantaran keterikatan membuat manusia memilih bagian hidupnya sesuai apa kemauannya, sebab kodrat manusia sesunggunya adalah memahami dan melaksanakan makna bebas sebagaimana di dalam ruang dan waktu ini. Apakah Sartre menyatakan bahwa kebebasan boleh juga dapat menidakkan sesuatu tertentu? Tentu saja ia dengan catatan bahwa ia mampu bertanggung jawab akan pernyataan tidak mengikuti sesuatu pun. Demikian kalo dikaji dari perspektif injil Matius itu sungguh memang merupakan kebebasan dari pihak si pemuda untuk pergi dalam kesedihan, sebab oleh karena kesedihannya dalam memilih hal surgawi bagi dirinya. Walaupun memang dalam perspektif Sartre Allah adalah pengkal seluruh kodrat ciptaannya8 dan untuk eksistesialimenya pun ia menganggap hal ini sungguh memenjarakan prnsip eksistensialime-humanisnya, kebebasanlah yang mencipta. Untuk itu penolakkan akan pengalaman pemuda dari nain seperti awal tulisan ini merupakan contoh kebebasan itu sendiri, ia pergi dalam kesedihan dan melangkah untuk memilih kehidupannya dengan berefleksi tentang harta, dan disitulah langkah awal bahwa kesedihan membuatnya menjadi bebas serta memahami bahwa sesungguhnya kehendak ultim manusia adalah tercipta menurut kebebasannya.
Daftar Pustaka
1. Matius 19:16-23
2.http://salihara.org/sites/default/files/%5B2016-05-28kf%5D%202016-05-28-Kelas%20Filsafat-Filsafat%20abad%20pertengahan Duns%20Scotus%20Antara%20Teologi%2C%20Sekularisme%20dan%20Pencerahan-Adrianus%20Sunarko.pdf diambil 24 April 2019
3.https://rodaduniailmu.blogspot.com/2019/02/jean-paul-sartre-kebebasan.html diambil 26 April 2019
4.Jean Paul Sartre dalam Wahyu Budi Nugroho, Orang Lain Adalah Neraka, Pustaka Pelajar,Yogyakarta, 2013,h. 37
5. ibid. 4
6. Jean Paul Sartre, op cit, hlm. 46
7. Sartre: The necessary of Freedom, University Cambridge Press hlm. 17
8. Dr. Van Der Weij dalam K. Bertens: Filsuf-filsuf besar tentang Manusia; Seri Filsafat Atma Jaya cetakan, Kanisius, Yogjakarta,2006, hlm.147
Komentar
Posting Komentar