Sdr. Alfonsius Febryano Ade Putra
Pengalaman tentang asistensi Natalku di tahun ini merupakan
suatu kekaguman tersendiri, sebab bukan hanya euforianya yang terlihat, tetapi
lebih dalam daripada itu semua, yakni tentang proses demi mencapai itu sebagai
suatu hikmat bagi sukacita kelahiran Kristus di mata umat beriman. Mambruk
Bibitan adalah tempat dari keseluruhan rasa kagum itu, bukan hanya kebetulan
asistensi disana, tetapi mengalami juga kegiatan menggereja di tempat tersebut
terlebih khusus tanggungan koor di kuasi paroki Juk wilayah Sinar Mas.
Kenyataan itu dimulai Tepat hari minggu sesudah aku memimpin ibadat, ketua
kombas mengumumkan agar umat stasi latihan koor untuk tanggungan hari raya
Natal yang telah disepakati pada rapat dewan tahun lalu. Berkumpul di rumah
bapak Mundus sambil menyeruput kopi di tengah gerimis hujan menjadi pengisi
waktuku untuk menunggu umat yang perlahan sudah mulai berkumpul. Waktu
menandakan pukul 12.00 WIT latihan koor pun dimulai dan dipandu oleh bapak
Goris dari stasi Rajawali. Cukup berkesan bahwa pelatih koor memulainya dengan
not angka supaya dapat terekam baik dari kalangan suara entah itu sopran, alto,
tenor dan juga bass. Aku pun turut bergabung membantu suara tenor, karena pada
saat mendengungkan tadi terdengar agak fals, hingga kuputuskan untuk berdiri di
tengah sebagai penyesuai notasi angka bagi bapak-bapak di sekelilingku. Aku sempat berpikir bahwa keren juga ya….
Biarpun keseharian masyarakat lebih berkelit pada ladang sawit tetapi mereka
tahu juga not angka itu, walaupun tidak sesempurna seperti paduan suara pada
umumnya.
Latihan koor di kediaman bapak Mundus cukuplah memakan waktu
yang lama, sebab bukan hanya fokus pada tanggungan hari raya, tetapi juga pada
malam Natal di esok harinya. Maka tak heran latihan baru dapat terselesaikan
pada pukul 17.00 WIT, hingga seusai itu ibu-ibu dan beberapa pemudi menuju SP 1
dengan tujuan mengambil baju seragam yang telah mereka pesan dua bulan lalu. Cukup mengherankan karena SP 1 itu bukan
dekat lho…. Sangatlah jauh untuk saya secara pribadi, tapi mereka semangat,
bahkan rela berdiri di bak truk sawit, ungkapku dalam hati. Tapi bila
menilai terkait latihan koor tadi, masih seperti terkesan buru-buru, mungkin
karena ibu-ibu dan para pemudi di barisan sopran-alto yang amat terlihat
gelisah untuk segera pergi mengambil pakaian seragam mereka. Walau demikian
karakter suara, sudah cukup memadai karena sederhana dan amat mudah saja,
catatannya suara melengking patut dikurangi.
Anugerah itu berkesan
Hari special itu pun tiba-tiba datang dengan begitu cepatnya,
25 Desember 2018 pada pukul 10.45 WIT di kuasi Paroki Juk wiayah sinar Mas,
petikan melodi dari bapak Jimmy dan gitar rhytem dari kakak Joni (Ketua OMK
Mambruk Luar) menghiasi intro dari lagu pembukaan, di mana aku cukup terkesima
karena pola menyanyiku juga cukup bulat, padahal tidak seperti biasanya. Hanya
saja cukup ganjil juga, karena hampir semua lagu dinyanyikan oleh koor lalu
umat hanya mendengarkan kami para petugas koor, padahal seharusnya ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus, Agnus
Dei) seharusnya umat ikut bernyayi. Aku juga baru tersadar kali itu dengan
latihan Koor dua hari lalu di rumah bapak Mundus, sebab kupikir nyanyian
ordinarium pada saat latihan guna mengisi nuansa liturgis pada malam Natal,
ternyata tahunya justru berbeda dari anggapanku itu. Hal itu baru aku terasa
ketika aku sampai pada kesimpulan setelah mengikuti keseluruhan perayaan dan
nyanyian yang mengiringi liturgi pada misa Natal di kuasi paroki tersebut.
Pujian pastor paroki juga selaku pemimpin perayaan Natal amat memuji kami
sebelum berkat penutupnya, dengan menyatakan bahwa stasi Bibitan menjadi stasi dengan kompetensi baik, karena tidak hanya
koor tapi mampu menjadi contoh kekompakkan bagi kita semua, terbukti dengan
gitaris rhytem dari stasi Mambruk Luar dan pemain gitar bass dari stasi Pabrik
dari tempat yang jauh kedua saudara ini mau untuk membantu umat Bibitan
mengiringi koor. Luar Biasa!!!
Tetapi bagiku pujian itu bukan merupakan kesan terbaik,
justru ketika perjalanan pulang menggunakan motor menuju Bibitan dengan bapak
Paskalis, disitulah aku menemukan bahwa anugerah itu berkesan. Di pertengahan
jalan yang dikelilingi pepohonan sawit yang cukup tinggi bapak Paskalis
bercerita terkait kesannya selama ini, bahwa stasi Bibitan memang merupakan stasi yang mandiri, oleh karena modal
bersama entah itu lwat bazar atau tanggung koor di kota dipakai untuk
membelikan alat-alat music, bukan hanya demi sarana liturgi stasi Bibitan,
tetapi disewakan juga kepada stasi lain untuk operasional kegiatan stasi yang
telah terprogram secara saksama. Juga ia menambahkan pula kursi-kursi
plastik di rumah pak Ary tempat frater
biasa duduk-duduk itu adalah hasil dari usaha sewa alat music itu, sehingga
umat tidak perlu lagi sewa-sewa kursi plastic bila ada acara, bahkan kursi yang
kami beli itu nantinya akan kami sewa juga kalo ada yang berminat pakai dengan
catatan harus di inventaris dulu lah…. Dengan demikian kekaguman itu mencapai
puncaknya ketika aku mengetahui bahwa pada umumnya kemampuan itu merupakan
anugerah yang dapat berlipatganda bila diberi kesempatan dan dipercaya untuk
pelbagai tugas apapun. Sebab dari kesempatan melahirkan banyak inovasi, ide dan
juga gagasan agar kemampuan di bidang tertentu mampu memicu kebersamaan secara
lebih kreatif dari tahun ke tahunnya, lebih daripada itu semua keseimbangan
hidup mengumat dalam menyatakan seluruh potensinya dapat tersalurkan serta
menjadi penyemangat bagi umat lainnya supaya mengembangkan lagi secara baru,
walaupun kemasannya sama dari waktu ke waktu. Dari kenyataan ini membuatku
teringat akan refleksi kritis terkait pendidikan dari Paulo Freire, yang dengan
saksama mengajarkan strategi perkembangan visi pendidikan akan terlihat
bilamana individu mampu menciptakan kreativitas sesuai bakat-bakat lahiriahnya,
untuk itulah membuka kesempatan bagi mereka adalah cara satu-satu agar
eksplorasi dapat terungkap secara penuh. Pun dengan sendirinya aku juga
meyakini bahwa setelah kesempatan itu diwujudkan, setelahnya akan terbit
keterbukaan paham melalui evaluasi, bukan hanya membahas tentang benar dan
salah tetapi merumuskannya pada keterarahan, yakni bila benar hendaknya dikembangkan
menuju inovasi yang baru dan bila salah hendaknya dituntun supaya dapat
dipahami bahwa hal tersebut masih menyimpang, agar akal dengan demikian tidak
berpuas diri terhadap suatu pencapaian. Disinilah letak pahamku bahwa anugerah
itu berkesan dan memberi nilai mutunya, jika terus diberikan kesempatan untuk
bereksplorasi, bukan demi kepentingan sendiri tapi pembaharuan ide yang
menuntun kenyamanan iman bagi sesame pada ranahnya sebagai pengungkapan.
Alotnya kemegahan
Hanya saja sekarang perjalanan kreativitas hidup mengumat
sebagaimana bentuknya dalam keterlibatan seakan mulai berada pada titik yang
stagnan. Bukan hanya karena nampak seperti tahun ke tahun, tetapi ide dan
kemampuan amat berbanding jauh dari kesadaran manusia saat ini. Terkadang memaknai
Natal dari tahun ke tahun seringkali didasarkan pada kemegahan dan realita
pengungkapan yang penuh, di mana keselarasan ide itu masih seperti berbanding
jauh dari kemampuan manusia seutuhnya. Kemegahan menjadi modul dari semuanya
itu, letaknya terdapat pada saat perundingan Natal dari tahun ke tahun,
seringkali muncul banyak ide dan pendapat. Pengalaman itu sempat diungkapkan
saat perjalanan saya bersama bapak Paskalis tentang bagaimana tantangan dan
keseluruhan penyelenggaraan Natal di stasi Bibitan sendiri, ia menyatakan bahwa memang terkadang
tuntutan dari umat kita di Bibitan seringkali cukup sulit, juga tidak pernah
melihat keuangan stasi yang bukan tak mampu mendanai, hanya sementara sedang
berkelit untuk menambah anggaran dengan pemasukan tetap, artinya ada usaha tetap supaya dapat menambah
kas stasi entah itu seperti menyewakan kursi plastik atau alat music, sehingga
mudah saja melakukan pembukuan kas stasi. Hal ini memang membuatku cukup
masuk akal, oleh karena teringat dengan sharing sebelumnya dari ketua OMK stasi
Mambruk Luar, bahwa stasi Bibitan baru saja diresmikan dan keberlanjutan
program stasi pun adalah mandiri.
Kini aku pun semakin menyadari bahwa pengalaman tersebut
seperti menjadi momok dalam pikiranku hingga saat ini, yakni bahwa keseimbangan
ide yang diamalkan demi pencapaian
tujuan bersama amat jauh dari kemampuan yang semestinya dikenal. Alotnya
terdapat pada ide kemegahan serta keistimewaan, di mana amat tidak selaras dari
potensi manusia itu sendiri. Hal demikian banyak merasuk dalam pribadi-pribadi
progresif terkait pencapaian dalam suatu kelompok belum sampai pada keselarasan
kemampuan dari individu-individu lainnya, hingga tak heran beberapa dari
individu tersebut seperti tersudut karena kemampuan yang merupakan panggilannya
tidaklah dipakai, apalagi dipandang sebagai anugerah kehidupan. Kesalahan
berpikir bukan pada asas tujuan itu sendiri, tetapi terkadang hasrat manusia
untuk mencapai harapan tertentu seperti seolah tak sepadan dengan kemampuan
dirinya ataupun anggota disekitarnya dan ini amat marak menjadi dominasi
permasalahan hidup berkomunitas. Kecenderungannya adalah seringkali acuh tak
acuh sehingga kemampuan sesama yang seharusnya ditakdirkan untuk memenuhi salah
satu bidang tertentu menjadi terabaikan dan selalu menemukan kebuntuan
panggilan, hingga memunculkan pertanyaan, “panggilan
apa yang harus kutekuni demi komunitas gerejaku dan masyarakat?” Pengalaman
asistensi Natalku menjadi momen untuk diri ini menjadi paham akan penggilan
yang bukan sepenuhnya berdasar pada keterpakasaan tujuan tertentu, tetapi
menjawabi diri ini secara utuh sebagaimana Allah memanggilku sebagai alatnya
seturut kemampuan dalam diriku pula. Amin….
Komentar
Posting Komentar