Selamat Pesta Stigmata St. Fransiskus Pelindung Keluarga Fransiskan
Sdr. Alfonsius Febryano Ade Putra
Sekelumit Kisah Stigmata Fransiskus
Sdr. Leo menceritakan kepada kita bahwa Fransiskus telah
memilih periode dari 15 Agustus sampai 29 September 1224 untuk sebuah retret
“guna menghormati Allah, Santa Perawan Maria, ibu-Nya, dan Santo Mikael,
pangeran para malaikat dan jiwa-jiwa. Fransiskus mempraktekkan devosi istimewa
kepada dua orang kudus ini. Pada waktu itu Fransiskus berumur 42 tahun, dua
tahun sebelum kematiannya. Kondisi fisiknya jauh dari baik. Suatu penyakit mata
yang sangat mengganggu serta menyakitkan secara serius membuatnya sulit dalam
hal membaca dlsb. Namun pada waktu itu dia juga dibuat lebih menderita lagi
oleh perbedaan-perbedaan pendapat antara para saudara tentang ‘cara hidup’ dari
ordo. Apakah cara hidup yang dihayatinya selama ini, yaitu cara yang diwahyukan
oleh Allah sendiri kepadanya, sungguh-sungguh merupakan cara yang Allah
inginkan? Apakah fondasi dari ordo Fransiskan tidak cukup kokoh? Satu
pertanyaan lagi yang mengganggunya adalah berkenan dengan masa depannya
sendiri. Apakah dia akan melanjutkan perjalanan-perjalanan keliling ‘dunia’ dan
mewartakan Injil kepada orang-orang atau haruskah ia mencari sebuah tempat yang
hening-tenang dan mengabdikan dirinya dalam suatu hidup doa? Ini adalah
serentetan pertanyaan yang bergejolak dalam hati dan pikirannya, pada waktu dia
menarik diri ke Gunung (Bukit) La Verna untuk mencari kehendak Allah. Ia
tinggal sendiri dalam pondoknya yang tidak jauh letaknya dari pondok para
saudara di gunung itu. Setiap hari Saudara Leo membawakan dia sekadar makanan
untuk dimakan. Tetapi agar tidak mengejutkannya, Saudara Leo harus berseru:
Domine, labia mea aperies” (Tuhan, bukalah bibirku). Pengaturan sedemikian
memampukan Fransiskus untuk berdoa tanpa terganggu.
Pada suatu malam dalam bulan September, beberapa hari
menjelang Pesta Salib Suci, Sdr. Leo berangkat pada waktu yang biasa untuk
berdoa matin (sekarang Ibadat Bacaan) bersama Fransiskus. Ketika dia berseru,
“Domine, labia mea aperies” dari ujung jembatan, Fransiskus tidak menjawab.
Sdr. Leo tidak kembali seperti yang diperintahkan oleh Fransiskus, namun dengan
niat yang baik dan suci, dia menyeberangi jembatan dan perlahan-lahan memasuki
pondok Fransiskus. Ia tidak menjumpai dia di sana. Ia mengira bahwa Fransiskus
telah pergi ke suatu tempat lain di hutan untuk berdoa. Oleh karena itu ia
keluar dan dalam cahaya bulan ia dengan diam-diam mencarinya di hutan.
Dilihatnya Fransiskus sedang berlutut, wajah dan tangannya tertengadah ke
langit, dan berseru dengan semangat bernyala-nyla, “Siapakah Engkau, Tuhan
Allah yang amat manis?” Ia terus mengulangi kata-kata itu tanpa mengatakan
lainnya.
Dengan penuh rasa heran Sdr. Leo menengadahkan mata dan
melihat sebuah obor api yang indah bercahaya, turun dari langit dan hinggap di
atas kepala Fransiskus. Dari dalam nyala api ini ia mendengar suara berbicara
kepada Fransiskus, namun Sdr. Leo tdak dapat memahami kata-kata itu. Ketika
melihat hal itu, ia merasa dirinya tak pantas tinggal di dekat tempat suci itu,
di mana hal ajaib itu sedang terjadi. Ia kuatir jangan-jangan ia menyakiti hati
Fransiskus karena memutus pengalaman rohaniah ini bila diketahui. Maka dengan diam-diam
Sdr. Leo mundur dan tinggal agak jauh sambil menantikan akhir peristiwa itu. Ia
memperhatikan dengan teliti dan melihat Fransiskus tiga kali merentangkan
tangannya ke dalam nyala itu. Akhirnya, selang waktu yang lama, ia melihat
nyala itu kembali ke langit.
Sdr. Leo mundur dan pergi, puas dan bahagia karena
penglihatan itu, dan hendak kembali ke pondoknya. Akan tetapi selagi dia
berjalan pergi penuh keyakinan, Fransiskus mendengar dia karena gemersik
dedaunan yang diinjaknya. Ia menyuruh dia berhenti dan tidak boleh bergerak.
Sdr. Leo dengan penuh ketaatan berhenti dan menanti dengan rasa takut. Kepada
para sahabatnya. Sdr. Leo kemudian bercerita bahwa saat itu rasanya lebih baik
bumi terbelah dan menelannya daripada menantikan Fransiskus, karena dia takut
akan membuat Fransiskus menjadi gusar. Karena dia selalu berhati-hati agar
tidak menyakiti hati bapaknya, jangan-jangan oleh kesalahannya Fransiskus akan
menolaknya sebagai sahabat.
Fransiskus mendekatinya dan bertanya, “Siapakah engkau?”
Dengan gemetar Sdr. Leo menjawab, “Saya Leo, Bapakku.” Fransiskus berkata
kepadasnya, “Mengapa engkau datang kemari, domba kecil? Bukankah telah
kukatakan jangan datang memperhatikan aku? Katakanlah kepadaku, demi ketaatan
yang suci, apakah engkau sudah mendengar
atau melihat sesuatu?”
Sdr. Leo menjawab, “Bapak, saya mendengar Bapak berkata
berulang-ulang, ‘Siapakah Engkau Allah termanis? Dan siapakah aku, seekor
cacing yang malang, hamba-Mu yang tidak berharga?” Lalu sambil berlutut di
depan Fransiskus, Sdr. Leo mendakwa dirinya karena dosa ketidaktaatan yang
telah dilakukannya. Ia mohon ampun sambil mencucurkan air mata dan sesudah itu
dengan sangat ia mohon kepada Fransiskus agar menjelaskan kata-kata yang tidak
dipahaminya itu.
Fransiskus yakin bahwa Allah telah mengizinkan Sdr. Leo yang
rendah hati itu untuk melihat beberapa hal karena kesederhanaan dan
kemurniannya. Maka dia bersedia mengungkapkan dan menjelaskan kepada Sdr. Leo
apa yang dimintanya. Ia berkata kepadanya, “Anak domba kecil dari Yesus
Kristus, pahamlah bahwa ketika aku mengulang-ulang kata-kata itu, yang engkau
dengarkan, dua terang-cahaya diperlihatkan kepadaku di dalam jiwaku, yaitu
pengetahuan dan pemahaman akan Pencipta,
dan yang lain adalah pengetahuan akan diriku sendiri. Ketika aku
berkata, ‘Siapakah Engkau, Allahku yang amat manis?’, aku berada dalam
terang-cahaya kontemplasi. Di dalamnya aku melihat kedalaman yang tak terhingga
dari kebaikan, hikmat dan kuasa Allah yang tak terhingga. Ketika aku berkata,
‘Siapakah aku?’, aku berada dalam terang-cahaya kontemplasi, di dalamnya aku
melihat kedukaan terdalam akan kemalangan serta kesusahan sendiri. Karena itu
aku berkata, ‘Siapakah Engkau, Tuhan kebaikan yang tak terhingga, Tuhan
hikmat-kebijaksanaan dan kuasa, yang rela mengunjungi daku, seekor cacing yang
hina-dina?’ Allah berada di depan nyala yang engkau lihat dan Ia berbicara
kepadaku seperti dahulu Ia bicara kepada Musa. Dari hal-hal yang dikatakan-Nya
kepadaku, antara lain Ia meminta kepadaku untuk mempersembahkan tiga hal
(pemberian). ‘Aku adalah milik-Mu seluruhnya’, jawabku. ‘Engkau tahu bahwa aku
tidak mempunyai apa pun selain jubah, tali pinggang dan pakaian dalam, dan
ketiga hal ini pun milik-Mu. Apakah yang dapat kupersembahkan pada
kebesaran-Mu?’ Lalu Allah berkata, ‘Carilah di dalam dadamu dan persembahkanlah
kepada-Ku apa yang kaudapati di sana.’ Aku mencari dan menemukan sebuah bola
emas dan ini kupersembahkan kepada Allah. Aku melakukan hal ini tiga kali,
seperti diperintahkan Allah kepadaku. Lalu aku berlutut tiga kali dan
memuliakan serta bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kepadaku sesuatu
untuk dipersembahkan. Langsung aku diberi pengertian bahwa ketiga persembahan
ini mewakili ketaatan yang suci, kemiskinan yang paling luhur dan cintakasih
yang gemilang. Hal-hal ini oleh rahmat-Nya telah dikaruniakan Allah kepadaku
agar aku menaatinya dengan sempurna sehingga suara hatiku tidak
mempersalahkanku. Seperti engkau lihat, aku memasukkan tangan ke dada dan
mempersembahkan kepada Allah ketiga keutamaan ini, yang diwakili oleh tiga bola
emas, yang ditaruh Allah di dalam dadaku. Demikian juga Allah telah menempatkan
dalam jiwaku keutamaan ini agar aku senantiasa memuji dan memuliakan Dia untuk
segala hal-hal baik dan rahmat yang diberikan-Nya kepadaku karena kebaikan-Nya
yang suci. Kata-kata inilah yang kaudengar ketika engkau melihat aku mengangkat
tanganku tiga kali. Hati-hatilah Sdr. Leo, domba kecil, engkau tidak boleh
terus mengawasiku. Kembalilah ke pondokmu dengan berkat Allah, dan jagalah aku
karena dalam beberapa hari lagi Allah akan melakukan hal-hal yang agung dan
menakjubkan di atas gunung ini, dan seluruh dunia akan kagum karenanya. Karena
Ia akan mengerjakan sesuatu yang baru, yang belum pernah dikerjakan-Nya pada
suatu makhluk pun di bumi ini.”
Setelah mengucapkan kata-kata ini, Fransiskus menyuruh membawakan
kitab Injil karena Allah telah mengilhamkan dalam jiwanya bahwa dengan membuka
kitab Injil tiga kali akan diperlihatkan apa yang kiranya berkenan pada Allah
untuk dikerjakannya. Setelah kitab itu dibawa kepadanya, Fransiskus berlutut
dan berdoa. Kemudian ia membuka kitab itu tiga kali dengan tangan Sdr. Leo
dalam nama Trinitas Mahakudus. Menurut penyelenggaraan ilahi, maka pada setiap
kesempatan, sengsara Kristus tampak. Dengan cara ini ia diberi pengertian bahwa
sebagaimana ia telah mengikuti Kristus dalam tindakan-tindakan kehidupannya,
begitupun ia harus mengikuti dan diserupakan dengan Dia dalam derita dan
kesakitan sengsara-Nya, sebelum ia meninggalkan kehidupan ini. Sejak saat itu
Fransiskus mulai mengalami dan semakin lebih merasakan kemanisan kontemplasi
ilahi dan kunjungan-kunjungan ilahi. Dalam salah satunya dia dipersiapkan untuk
menerima stigmata.
Satu hari sebelum “Pesta Salib Suci” dalam bulan September,
ketika Fransiskus sedang berdoa sendiri dalam pondoknya, seorang malaikat Allah
menampakkan diri kepadanya atas nama Allah. Malaikat itu berkata: “Aku datang
untuk menghibur dan memberitahukan agar engkau mempersiapkan diri, mengatur
dirimu dengan rendah hati dan sabar untuk menerima hal yang akan dilaksanakan
Allah di dalam dirimu.” Fransiskus menjawab, “Aku siap menanggung dengan sabar
segala sesuatu yang hendak dikerjakan Tuhan terhadapku. Setelah itu malaikat
itupun pergi.
Keesokan harinya, pada hari Pesta Salib Suci, sebelum fajar,
Fransiskus berlutut dan mulai berdoa pada pintu masuk ke pondoknya. Ia
memalingkan muka ke arah timur dan mengucapkan doa ini, “Tuhanku Yesus Kristus,
kumohon kepada-Mu karuniakanlah dua anugerah sebelum aku meninggal. Yang
pertama ialah agar Kauizinkan aku untuk merasakan dalam hatiku sebanyak mungkin
penderitaan hebat yang Engkau, Yesus Yang Manis, telah rasakan pada saat
sengsara-Mu yang amat pahit itu. Yang kedua ialah agar aku boleh merasakan dalam hatiku sebanyak mungkin
cinta yang tak terbatas, dengan mana Engkau, Putera Allah, tergerak dan mau menanggung
swengsara sedemikian itu bagi kami para pendosa.” Lama Fransiskus berdoa, dan
ia mengetahui bahwa Allah akan mengabulkan doanya, dan bahwa sebanyak yang
mungkin bagi seorang makhluk, Allah akan mengizinkannya mengalami hal-hal
seperti yang dimintanya.
Setelah Fransiskus menerima jaminan ini, ia mulai
merenungkan sengsara Kristus dan cintakasih-Nya yang tak terbatas dengan
kebaktian besar. Semangatnya menjadi begitu kuat di dalam dirinya sehingga
seluruh dirinya menjelma ke dalam Yesus karena cintakasih dan belaskasihan. Pada pagi yang sama ini,
sementara dia begitu dikobarkan oleh kontemplasi ini, dia melihatg serafim
dengan enam sayap yang bercahaya serta berapi-api turun dari langit. Serafim
ini mendekati Fransiskus dengan kecepatan terbang yang amat cepat sehingga dia
tidak dapat melihatnya dengan jelas, dan mengetahui bahwa ia berbentuk seorang
manusia yang tersalib. Sayap-sayapnya diatur sedemikian rupa sehingga dua
terentang di atas kepalanya, dua lagi terbentang untuk terbang dan dua yang lain
menutup seluruh tubuhnya. Fransiskus memandang dengan penuh ketakutan,
sekaligus penuh kegembiraan, kedukaan dan kekaguman. Ia merasakan kegembiraan
yang besar karena wajah Kristus tampak begitu biasa dan memandang kepadanya
dengan ramah dan lembut. Dia terpaku pada salib. Ia merasakan kesedihan dan
belarasa yang tak terhingga, mengagumi penglihatan yang amat menakjubkan dan
tak didahului oleh apa pun itu dengan sadar sepenuh-penuhnya bahwa kelemahan
sengsara tidak sepadan dengan tidak dapat matinya semangat serafik. Dalam
keadaan demikian, diwahyukan kepadanya bahwa penglihatan ini diberikan
kepadanya karena Allah menghendaki bahwa dia terjelma ke dalam keserupaan yang
nyata dengan Kristus Tersalib, bukan dengan permartiran tubuhnya, melainkan
dengan pengorbanan jiwanya.
Selama penglihatan yang mengagumkan ini, seluruh Gunung La
Verna bercahaya cerah. Cahaya itu menerangi semua bukit dan lembah-lembah di
sekitarnya. Seakan-akan matahari telah terbit di atas bumi. Para gembala yang
sedang mengawasi kawanannya di sekitar situ melihat gunung itu bernyala-nyala
serta ditutup oleh terang-cahaya yang cerah gemilang, menjadi sangat gempar.
Kemudian mereka mengatakan kepada saudara-saudara bahwa keadaan ini berlangsung
selama satu jam. Demikian juga beberapa pengendara keledai yang sedang
bepergian ke Romagna dibangunkan oleh cerahnya cahaya iini yang mengira bahwa
matahari sudah terbit. Mereka memasang pelana dan menempatkan muatan-muatan
pada hewan-hewan mereka. Ketika sudah di jalan, mereka melihat cahaya itu
lenyap dan matahari yang sesungguhnya barulah terbit.
Selama penglihatan serafim itu, Kristus tampak kepada
Fransiskus dan mewahyukan kepadanya hal-hal yang agung dan rahasia yang tak
pernah diungkapkannya kepada seorang pun selama masa hidupnya, tetapi menjelang
wafatnya barulah ia mengungkapkannya. “Tahukah engkau, apa yang telah
Kukerjakan padamu?” Aku memberikan kepadamu stigmata tanda kesempurnaan-Ku agar
engkau menjadi patokan pengikut-Ku. Sebagaimana Aku turun ke tempat penantian
pada hari wafat-Ku dan membebaskan semua jiwa dari sana berkat pahala
stigmata-Ku, demikian pula Aku memberikannya setiap tahun pada peringatan
kematianmu agar engkau mengunjungi api pencucian (purgatorio). Berkat kekuatan
stigmata-mu, engkau akan membebaskan semua jiwa yang ada di sana, yang termasuk
dalam ketiga ordomu – yaitu para saudara dina, suster-suster (Klaris/Ordo II)
dan para peniten/pentobat – juga semua yang mempunyai devosi besar kepadamu;
dan engkau akan menghantarkan mereka kepada kebahagiaan firdaus. Dengan cara
ini, engkau akan diserupakan dengan Aku dalam wafat-Kuu sebagaimana yang telah
terjadi selama hidupmu.”
Sesudah pembicaraan rahasia yang lama, penglihatan ajaib ini
lenyap dan meninggalkan di dalam hati Fransiskus nyala cintakasih ilahi yang
berkobar-kobar, dan di dalam tubuhnya suatu gambaran yang mengagumkan serta
suatu rekaman sengsara Kristus. Pada tangan dan kaki Fransiskus langsung mulai
tampak bekas-bekas paku seperti yang dilihatnya pada tubuh Yesus Yang Tersalib,
yang telah menampakkan diri kepadanya dalam bentuk seorang serafim. Tangan dan
kakinya tampak tertembus di tengah-tengahnya oleh paku. Kepala paku itu berada
dalam telapak tangan serta tapak kakinya, menembus keluar dagingnya.
Ujung-ujung paku itu keluar pada punggung tangan dan kakinya. Tampaknysa
dibengkokkan ke belakang dan dilingkarkan sedemikian sehingga orang dapat
dengan mudah memasukkan jarinya melalui lingkaran di luar daging, seolah dalam
sebuah cincin. Kepala paku-paku itu bulat dan hitam. Demikian pula pada sisi
kanannya timbul luka tikaman yang tak tersembuhkan, merah dan berdarah. Dari
luka itu mengalirlah darah dari hati suci Fransiskus, menodai jubah dan pakaian
dalamnya.
Sebelum sahabat-sahabatnya mengetahui tentang hal itu,
mereka hanya mengetahui bahwa dia tidak membuka tangan dan kakinya dan bahwa
kakinya tidak dapat menginjak tanah. Mereka melihat bahwa jubah dan pakaian dalamnya
berbekas darah ketika mereka mencucinya. Maka tahulah mereka bahwa ia membawa
Kristus Tersalib yang tertera pada tangan, kaki serta sisinya. Walaupun ia
berusaha sungguh-sungguh untuk menutupi
dan menyembunyikanm stigmata suci ini, yang begitu jelas tertera pada tubuhnya,
ia yakin bahwa ia hampir tidak dapat
melakukan itu terhadap sahabat-sahabat karibnya; kendati ia takut untuk mengungkapkan rahasia Allah. Ia
berada dalam kebingungan besar apakah ia harus atau tidak mengungkapkan
penglihatan serafim dan terteranya stigmata pada dirinya. Akhirnya di bawah
tekanan suara hatinya, ia memanggil beberapa saudaranya yang paling intim
dengan dia dan mengemukakan keraguannya secara umum tanpa mengungkapkan
kenyataannya. Ia meminta nasihat mereka, apakah yang seharusnya dikerjakannya.
Di antara saudara ini, ada seorang yang amat suci, yang bernama Illuminato.
Sdr. Illuminato mengerti bahwa Fransiskus pasti telah melihat sesuatu yang
ajaib. Maka jawabnya, “Fransiskus, ingatlah bahwa Allah sudah beberapa kali
mengungkapkan rahasia-Nya kepadamu, tidak hanya untuk keuntunganmu saja, tetapi
juga untuk orang lain. Engkau kiranya pantas dicela bila menyembunyikan sesuatu
yang telah dinyatakan (diwahyukan) kepadamu.” Fransiskus tergerak oleh
kata-kata ini dan melaporkan seluruh keadaan dan sifat dari penglihatan itu
dengan perasaaan dahsyat, sambil menambahkan bahwa Kristus telah menyampaikan
kepadanya hal-hal tertentu yang tak dapat diungkapkan selama masih hidup. Luka
tersuci ini, yang diterakan Kristus, amat menggembirakan hatinya sekaligus
mendatangkan rasa sakit yang tidak tertahan. Karena itu, dipaksa oleh
kebutuhan, ia memilih Sdr. Leo, yang paling sederhana dan murni, dan
menceritakan segala sesuatu kepadanya. Ia memperbolehkannya untuk menyentuh dan
membalut luka-luka suci dengan perban agar mengurangi rasa sakitnya dan menahan
darah yang mengalir. Pada saat ia merasa sakit, ia mengizinkan untuk mengganti
perban lebih sering, kadang-kadang setiap hari, selain antara Kamis sore dan
Sabtu pagi. Selama waktu itu, ia tidak menghendaki bahwa penderitaan sengsar
Kristus, yang dideritanya di dalam tubuhnya sendiri diperingan oleh suatu obat
manusia karena pada waktu itu Tuhan dan Juruselamat kita telah disalibkan,
wafat dan dimakamkan demi kita. Suatu waktu, ketika Sdr. Leo sedang mengganti
perban dari luka di sisinya, darah itu diambil – meletakkan tangannya pada dada
Sdr. Leo. Atas sentuhan tangan yang suci ini, Sdr. Leo merasakan kemanisan
dalam hatinya sehingga dia hampir-hampir jatuh terkulai di tanah.
Fransiskus mengakhiri puasa Santo Mikael Malaikat Agung dan
bersiap-siap kembali ke Santa Maria Para Malaikat (Portiuncula). Ia memanggil
Sdr. Masseo dan Sdr. Angelo. Ia berbicara lama dengan mereka dan memberi
nasihat suci. Lalu ia menyerahkan gunung suci itu kepada mereka agar dipelihara
dengan sungguh-sungguh. Ia mengatakan kepada mereka bahwa perlu baginya untuk
kembali ke Santa Maria Para Malaikat bersama Sdr. Leo. Setelah itu ia
meninggalkan mereka dan memberkati mereka, mengulurkan tangan-tangannya yang suci
itu, yang dihiasi dengan stigmata yang mulia sehingga mereka dapat melihat,
menyentuh dan menciumnya. Ia meninggalkan mereka dan menuruni gunung suci itu.
Untuk direnungkan secara pribadi: Dengan menaruh contoh yang
diberikan oleh Bapak kita yang suci Santo Fransiskus dalam hati dan pikiran
kita, renungkanlah efek apa yang terjadi atas diri kita apabila kita memandang
Kristus Tersalib secara serius dan dengan penuh konsentrasi/fokus dalam waktu
yang cukup lama. Efeknya atas diri Fransiskus adalah bahwa hal tersebut
memimpinnya untuk melakukan pelayanan kepada Allah dan kepada pertobatan
(tadinya hanya urusan dunia saja). Demikianlah kiranya dengan kita, tatapan
mata kita yang terpusat kepada Sang
Tersalib seharusnya membuat hati kita yang tadinya senang dengan hal-hal
duniawi diubah menjadi penuh dengan rasa sedih untuk segala dosa kita. Untuk
alasan apa sampai Yesus Kristus dipaku pada kayu salib dan seluruh tubuh-Nya
penuh luka-luka? Seorang nabi bernubuat: “Dia tertikam oleh karena
pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita” (Yes 53:5).
Meditasi atas penderitaan-penderitaan Kristus telah menyebabkan Santo
Fransiskus terus mencucurkan air mata sebegitu rupa sehingga membuat matanya
‘bengep’. Apakah Saudari/saudari juga berlutut di hadapan Yesus yang tersalib
dan menangisi dosa-dosa yang telah turut memaku Sang Penebus pada kayu salib?
Catatan: Ketika menjawab sms selamat pesta Stigmata Bapak
Fransiskus ini dari saya, seorang saudari OFS (seorang minister persaudaraan
lokal) membalas dengan sms, a.l. berbunyi seperti ini: “membayangkan stigmata
Bapa kita Santo Fransiskus terasa diri ini kecil banget dan sangat-sangat
berdosa”. Yang berikut ini dari seorang bruder Saudara Dina: “Fransiskus
menderita kesakitan karena menerima lima luka Yesus. Kita, Fransiskan, pesta
karenanya. Gimana ya?
Saudari dan
Saudaraku, selamat Pesta ya. Tapi bukan dalam arti pesta yang hura-hura, ya!

Komentar
Posting Komentar